“MEMAHAMI PROPAGANDA IBLIS”
Oleh: Dr. Adian Husaini
TAHUN 2013 ini, kontes Miss World akan
diselenggarakan di Indonesia. Kabarnya, selain digelar di Bali dan
Jakarta, acara puncaknya akan digelar di Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada
28 September 2013. Jika peristiwa ini benar-benar terjadi, maka ini
sebuah peristiwa bersejarah. Untuk pertama kalinya, kontes Miss World
terjadi di sebuah negeri Muslim terbesar di dunia, di salah satu
propinsi yang dikenal paling religus, yang kebetulan sedang dipimpin seorang Ustad kondang, yakni Ustad Ahmad Heryawan Lc.
Menurut ketua Miss Indonesia
Organization, Liliana Tanoesoedibjo, dibutuhkan waktu tiga tahun untuk
meyakinkan induk organisasi Miss World agar mau memilih Indonesia
sebagai tuan rumah. Liliana adalah istri pemilik MNC Group Harry
Tanoesoedibjo yang juga tokoh Partai Hanura dan salah satu konglomerat
serta penguasa media terkemuka di Indonesia.
Bagi aktivis perkontesan pemilihan
perempuan-perempuan cantik, maka peristiwa ini tentu dianggap sebagai
sebuah momentum besar. Indonesia dipercaya sebagai tuan rumah untuk
acara internasional, yang kabarnya akan disiarkan langsung oleh lebih
dari 100 televisi dari berbagai negara. Indonesia akan terkenal.
Ujungnya, diharapkan, pariwisata akan makin maju. Duit pun diharapkan
masuk.
Di ajang kontes Miss World ini, Indonesia
akan diwakili Miss Indonesia 2013, Vania Larissa. Untuk dapat
memenangkan kontes ini, kontestan harus memiliki kriteria tertentu.
Situs lifestyle.okezone.com memberitakan, bahwa kriteria
pemenang dalam kontes ini tidak hanya mendasarkan pada poin paras
cantik, tapi juga dinilai aspek kepribadian dan jiwa sosial.
Kepada Okezone.com, di Jakarta,
Selasa (19/2/213), Julia Morley, Chairwoman of Miss World Organization
mengatakan, “Mereka semua yang mengikuti ajang Miss World adalah
wanita-wanita cantik, mereka semua bisa menjadi Miss World. Tapi kami
memilih peraih gelar Miss World tidak hanya dari wajah cantik saja, tapi
sangat penting bagi kami melihat satu diantara mereka yang benar-benar
memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Sejak kemunculannya di tahun 1951 di London, kontes Miss World sudah memunculkan pro-kontra. Situs bbc.co.uk
(5/11/2011), menyambut kontes Miss World ke-60 di London, tahun 2011,
sekelompok feminis menggalang demonstrasi menentang acara tersebut.
Sebuah pernyataan di situs “London Feminist Network” menyatakan, “Tidak
ada tempat bagi kompetisi ini!” (the competition has no place in London
in 2011). Situs feminis ini juga menegaskan: “Forty years ago feminists
disrupted this sexist contest in a spectacular fashion, with chants of,
‘we’re not beautiful, we’re not ugly, we’re angry’.
Mulanya, kontes kecantikan ini
semata-mata menekankan soal fisik (beauty). Mungkin untuk mengurangi
kontroversi, di kemudian hari ada dua unsur lain ditambahkan menjadi
kriteria penilaian, yaitu “brain” (kecerdasan) dan “behavior”
(perilaku). Tapi, bagaimana pun, yang utama tetap faktor fisik. Sebab,
ini adalah kontes kecantikan. Otak dan perilaku bukan yang utama. Banyak
perempuan cerdas dan berprestasi tinggi di bidang sosial, tetapi tidak
mungkin menjadi peserta kontes kecantikan ini. Itu semata-mata karena
tidak memenuhi kriteria secara fisik. Di sejumlah kontes kecantikan,
kriteria fisik ini sangat ketat dan bahkan sangat berlebihan.
Sebagai contoh, pada 5 September 2012
lalu, sebuah kontes kecantikan di China menuai kontroversi. Pasalnya,
juri dianggap menetapkan kriteria fisik yang ‘terlalu ketat’. Kontes
yang diselenggarakan oleh “The Chinese website Model Net (mtw.cc),
antara lain mensyaratkan: mulai babak semifinal dan seterusnya, jarak
antara dua puting payudara harus di atas 7,8 inci (20 cm). Menurut
panitia, kriteria ‘cantik’ itu berdasar pada standar Cina klasik
dipadukan dengan hasil riset ilmiah modern.
Banyak pihak mengkritik krtiteria
“cantik” dalam kontes ini. Tapi, dalam kontes kecantikan, yang dinilai
dan diukur memang fisik kontestan. Mata, alis, jidat, hidung, bibir,
leher, pipi, rambut, payudara, perut, pantat, dan kaki kontestan harus
tampak cantik di mata juri! Semua anggota tubuh itu harus bisa dilihat
dengan jelas dan bisa ‘diukur’ oleh dewan juri.
Karena yang dijadikan standar utama
adalah faktor kecantikan fisik, maka pemenang kontes ini pun tak
selamanya dianggap cantik. Sebab, cantik terkait dengan umur. Makin
tambah umur, biasanya kecantikan semakin memudar. Makin tua makin
menurun pesona kecantikan fisik seseorang. Karena itu, tiap tahun,
dibutuhkan kontes perempuan cantik yang baru untuk dihasilkan
perempuan-perempuan cantik dan segar untuk dapat dinikmati kecantikannya
oleh syahwat laki-laki dan kepentingan bisnis di dunia kecantikan dan
kewanitaan.
Tuhan disingkirkan
Fenomena “kontes kecantikan” menjadi
salah satu ciri dari peradaban materi yang menjadi cirri khas dari
peradaban Barat (Western Civilization). Peradaban Barat modern sarat
dengan pemujaan materi. Ada empat hal yang dipuja dalam peradaban ini,
yaitu: kekayaan, jabatan, kecantikan, dan popularitas. Agama
disingkirkan sebagai sumber nilai, digantikan dengan budaya dan
spekulasi akal.
Jika agama sudah disingkirkan dari
kehidupan, lalu budaya dan akal semata dijadikan sebagai tolok ukur
kebenaran, maka ketika itulah sebenarnya manusia sudah mengangkat
dirinya menjadi Tuhan. Itulah yang terjadi pada peradaban Barat modern
sekarang ini. Manusia sudah mengangkat dirinya menjadi Tuhan dan
kemudian manusia merasa mampu mengatur Tuhan. Dalam istilah Prof. Naquib
al-Attas: “Man is deified and Deity humanized”.
Peradaban Barat memang bukan menolak
agama dan menolak kebaradaan Tuhan, tetapi, tidak memberi peran yang
penting kepada Tuhan dan agama dalam sistem berpikir mereka. Itu yang
dikatakan Muhammad Asad dalam bukunya “Islam at The Crossroads”:
“Western Civilization does not strictly deny God, but has simply no room
and no use for Him in its present intellectual system.” (Muhammad
Asad, Islam at The Crossroads, (Kuala Lumpur: The Other Press).
Logika berpikir “membuang Tuhan” itulah
yang kita jumpai pada logika kontes Miss World. Jangan bicara Tuhan di
sini! Jangan bicara moral! Yang ada adalah nilai seni, hiburan, devisa,
popularitas, dan keuntungan materi. Ketika “Tuhan” sudah dibuang, maka
manusia merasa berhak menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
Padahal, ketika itu, manusia pada hakekatnya sedang menjadikan ‘hawa
nafsunya’ sebagai Tuhannya. (QS 45:23).
Tahun 2011, sebuah situs perempuan
memberitakan adanya sebuah kontes pemilihan vagina terindah di AS.
Kontes itu diberi nama “The Most Beautiful Miss V Contest”, yang
diselenggarakan oleh sebuah klub di Portland, Oregon. Kononnya, juri
dalam kontes itu terdiri atas enam orang selebriti setempat. Untuk
menentukan pemenangnya, si juri dibekali dengan alat kaca pembesar.
Akhirnya, setelah melakukan penelitian dengan cermat, terpilihlah
seorang juara yang dianugerahi mahkota dan gelar sebagai “Miss Beautiful
Vagina 2011”.
Di Indonesia pun, kelompok liberal yang
tergabung dalam Teater Salihara, pada 9 Oktober 2012, menggelar teater
dari Perancis yang seluruh pemainnya bertelanjang bulat saat pentas.
Situs: salihara.org/community/2012/10/12/tari-telanjang-tanpa-rangsang,
menurunkan berita dengan judul “Tari Telanjang Tanpa Rangsang” (12
Oktober 2012). Ditulis dalam situs ini: “Tubuh telanjang tidak selalu
menjadikan pelihatnya terangsang. Tari telanjang pun juga tak selalu
berkutat dalam bingkai erotis pemancing syahwat. Dalam konteks ini,
Amour, acide, et noix (2001) dari Daniel Léveillé Danse (Kanada) menjadi
contohnya. Penampilan mereka dalam Festival Salihara Keempat Selasa
(09/10) lalu memukau 230-an penonton di Teater Salihara.”
Logika “membuang Tuhan” dari nilai-nilai
kehidupan inilah yang mudah kita jumpai pada pihak penyelenggara dan
pendukung kontes kecantikan sejenis Miss World. Alasan yang senantiasa
dikemukakan adalah untuk keuntungan popularitas dan peningkatan
pariwisata. Tidak ada kriteria yang pasti, mana tubuh yang boleh dibuka
atau ditutup. Itu tergantung budaya, tergantung situasi. Tidak ada
ukuran yang pasti mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh.
Tampaknya, para pelaku seni liberal ini
berprinsip “Seni untuk seni!” Bukan “seni untuk ibadah”. Tidak ada nilai
agama dilibatkan. Toh, kata mereka, kontes-kontes semacam ini menghibur
(baca: memuaskan syahwat), tidak mengganggu orang lain, bahkan berhasil
menyedot banyak pengunjung.
Pada 15 November 2012, sebuah situs
hiburan di Indonesia menampilkan judul berita: “Kriteria Miss Indonesia
2013 Ikuti Standar Miss World”. Salah satu anggota tim juri audisi Miss
Indonesia 2013 menyatakan: “Karena ini ajang kecantikan, bagaimana pun
yang paling penting adalah fisik perlu diperhatikan, seperti wajah,
tinggi badan dan proposional berat tubuh.”
Itulah kontes kecantikan! Agar kontes
semacam ini tidak menampakkan eksploitasi tubuh perempuan yang terlalu
vulgar – mirip-mirip seleksi ‘binatang sembelihan’ — maka dibuatlah
kriteria ‘tambahan’ dengan memasukkan aspek intelektual, seperti wawasan
sejarah, pengetahuan umum, dan kemampuan bahasa. Dalam sebuah acara
konferensi pers di Jakarta, (19/2/213), Julia Morley, Chairwoman of Miss
World Organization mengatakan: “Mereka semua yang mengikuti ajang Miss
World adalah wanita-wanita cantik. Mereka semua bisa menjadi Miss World.
Tapi kami memilih peraih gelar Miss World tidak hanya dari wajah cantik
saja, tapi sangat penting bagi kami melihat satu di antara mereka yang
benar-benar memiliki jiwa sosial yang tinggi.” (okezone.com)
Jadi, ini kontes kecantikan! Yang diukur
utamanya adalah aspek fisik perempuan. Karena itulah biasanya dalam
kontes ini ada sesi parade peserta dalam pakaian bikini. Para peserta
disuruh berjalan, bermain-main di kolam renang, untuk bisa dinikmati dan
diukur kadar kecantikan fisiknya oleh dewan juri.
Itulah kontes kecantikan. Sehebat apa pun
seorang perempuan; mungkin ia juara olimpiade matematika, pakar ilmu
pengetahuan, pekerja sosial hebat, pembela kaum tertindas, penemu vaksin
AIDS, penopang keluarga, pendidik yang hebat, dan sebagainya — tapi si
perempuan tidak cantik, muka cacat bekas luka, ukuran cebol – maka ia
harus tahu diri. Menyingkirlah dari kontes ini! Sebab, Anda tidak
cantik! Anda tidak patut dipuja-puji dan ‘dijual’ ke seantero dunia.
Iblis yang Menawan
Sikap ”membuang Tuhan” dalam kehidupan
jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Ketuhanan YangMaha Esa.
Katanya, bangsa Indonesia ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Katanya, bangsa
Indonesia berdasarkan pada Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Tentu
sulit diterima akal sehat, jika ada manusia yang mengakui keberadaan
Tuhan YME tetapi menolak kedaulatan Tuhan; menolak untuk tunduk patuh
pada aturan-aturan Tuhan. Sikap mengakui eksistensi Tuhan tetapi menolak
kedaulatan-Nya seperti itu sudah pernah dicontohkan oleh Iblis,
makhluk yang sombong dan durhaka kepada Allah.
Dalam al-Qur’an dijelaskan, bahwa Iblis
dikutuk dan diusir karena menolak perintah Allah. Iblis tidaklah ateis
atau agnostik. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak
meragukan wujud maupun ke-Esaan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia
tahu dan percaya seratus persen. Tetapi, meskipun ia tahu kebenaran, ia
disebut ‘kafir’, karena mengingkari dan menolak untuk tunduk patuh
kepada Tuhan YME.
Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu
atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang. (QS 2:34, 15:31,
20:116). Iblis sombong dan menganggap dirinya hebat (QS 2:34, 38:73,
38:75). Allah berfirman: “Dia adalah dari golongan jin, maka ia durhaka
terhadap perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan
turunan-turunannya sebagai pemimpin selain kepada-Ku, sedang mereka
adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi
orang-orang yang zalim” (QS 18:50). Maka Iblis juga sudah bertekad: “Sungguh
akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan kudatangi mereka
dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka!” (QS 7:16-17).
Sosok Iblis dalam al-Quran adalah sosok
yang pintar dan berilmu, sejenis cendekiawan. Dalam bukunya, Orientalis
dan Diabolisme Intelektual, Dr. Syamsuddin Arief menjelaskan ciri-ciri
“cendekiawan bermental Iblis”.
Pertama, selalu membangkang dan
membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan
pernah mau menerima kebenaran. Selalu dicarinya argumen untuk menyanggah
dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting
baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia
tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti
dan tunduk pada kebenaran itu.
Kedua, cendekiawan bemental Iblis
itu “bermuka dua”, menggunakan standar ganda (QS 2:14). Mereka
menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan
dungu (sufaha’). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam
al-Qur’an : “Akan Aku palingkan mereka yang sombong tanpa kebenaran itu
dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap
saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan
kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan
kesesatan, mereka justru menelusurinya” (QS 7:146).
Ketiga, ialah mengaburkan dan
menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan Iblis
bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja
memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas
sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq. Sebaliknya, yang haq
digunting dan di’preteli’ sehingga kelihatan seperti batil. Iblis punya
kemampuan juga mencampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda
antara yang benar dan yang salah.
Strategi semacam ini memang sangat
efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh. Al-Qur’an pun
telah memberitahukan: “Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya
berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan
yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang
menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan
dibimbingnya ke neraka” (QS 22:3-4).
Dengan tipudaya Iblis, khamar diiklankan
dan dijadikan kebanggaan oleh sebagian manusia modern; perzinahan
dianggap biasa dan bukankejahatan, bahkan dilegalkan dan tidak
dipersoalkan kebejatannya; pertunjukan telanjang dipromosikan sebagai
suatu keindahan (seni) dan amal kebajikan. Di zaman globalisasi saat
ini, diakui, bahwa informasi adalah kekuatan yang paling dahsyat.
Penguasa informasi adalah yang menguasai otak manusia saat ini. Mereka
dengan leluasa berpotensi memutarbalikkan fakta dan kebenaran. Di
sinilah ‘talbis Iblis’ (tipu daya Iblis) dapat terjadi. Yang haq dipromosikan sebagai kebatilan, dan yang BATHIL dikampanyekan sebagai AL-HAQ.
Banyak motif para pelaku talbis Iblis. Bisa karena memang ada
kesombongan, ada penyakit hati, atau karena motif mencari keuntungan
duniawi.
Kisah Iblis begitu banyak diceritakan
dalam al-Quran. Pesannya sangat jelas kepada kita, orang Muslim: jangan
contoh perilaku Iblis! Dia memang pintar, tapi licik, durhaka dan berani
menantang Tuhan. Satu lagi: dalam menyesatkan manusia, Iblis
menggunakan cara-cara yang halus dan canggih. Kata-katanya menawan.
Iblis tidak membentak-bentak Adam dan Hawa. Iblis bermuka manis,
bertutur kata lembut dan sopan.
Bahkan, Iblis menampakkan sikap yang
sangat simpatik kepada Adam dan Hawa. Iblis sepertinya tidak bertampang
seram, seperti digambarkan selama ini dalam berbagai komik dan film atau
sinetron. Tapi, Iblis itu bisa berwajah cantik dan menawan. Iblis tidak
mengatakan: ”Wahai Adam, tidak usah pedulikan larangan Tuhan!”
Tapi, Iblis bersikap sebagai teman akrab. Iblis bersumpah kepada Adam
dan Hawa, bahwa dia adalah sahabat karib yang menasehati Adam dan Hawa
dengan tulus ikhlas. (QS 7:21). Allah juga mengingatkan, bahwa musuh
para Nabi dan pengikutnya adalah ’setan dari jenis manusia dan setan
jenis jin’ yang aktivitas mereka adalah membisikkan kata-kata indah
(zukhrufal qauli) untuk menipu manusia. (QS 6:112).
Menjelang digelarnya kontes Miss World
2013 di Indonesia, kita, kaum Muslim Indonesia, patut merenungkan
benar-benar kisah Iblis, sifat, perilaku dan kiat-kiat propagandanya
dalam menyesatkan manusia. Iblis sudah terbukti sangat profesional
dalam soal penyesatan manusia. Perbuatan yang jelas-jelas munkar dan
jahat bisa dikemas dan dipropagandakan sedemikian rupa sehingga tampak
indah, menawan, dan mendapatkan dukungan masyarakat secara luas. Karena
itulah, kita diseru oleh Allah SWT: ”Wahai orang-orang beriman,
masuklah ke dalam Islam secara kaffah, dan jangan sekali-kali mengikuti
’garis-garis’ setan. Sesungguhnya setan adalah musuhmu yang nyata.” (QS 2:208).
Jadi, jika mau selamat dari tipu daya
Iblis, maka kita diimbau agar masuk ke dalam Islam secara kaffah. Jangan
tanggung-tanggung jadi orang Muslim! Jangan bersikap seperti Iblis!
Hanya mau menerima hal-hal tertentu yang disukainya, tetapi menolak
aturan-aturan Allah yang tidak disukai atau dianggap merugikan dirinya!
Tapi, kita manusia, yang bisa khilaf dan
lupa. Jika kita sempat tergoda Iblis atau setan, terjebak dalam
tipudayanya, segeralah kita ingat Allah, bertobat! Manusia yang baik,
bukan tidak pernah salah dan dosa, tetapi manusia yang segera sadar akan
kessalahannya. Itulah yang dilakukan oleh Adam a.s. Jangan seperti
Iblis! Sudah berbuat salah, tidak mengaku salah, tapi malah membangkang
dan berani menantang Tuhan. Na’udzublillahi min dzalika. Kita berlindung
kepada Allah dari sikap-sikap pongah gaya Iblis semacam itu.
Berikut ini doa yang diajarkan Nabi saw
agar kita terhindar dari godaan setan: ”Rabbi a’udzubika min hamazaatisy
syayaathini, wa-a’udzubika Rabbi an-yahdhurun.” (Ya Allah, Ya Tuhanku,
aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan; dan aku berlindung
(pula) kepada-Mu, Ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku).”
/Depok, 23 April 2013
(Penulis
Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan
hidayatullah.com). [KbrNet/Slm]
Source: hidayatullah.com






0 komentar:
Posting Komentar