Tampilkan postingan dengan label indonesia militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia militer. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juli 2013

Oerlikon 20mm/70 MK4: Biar Lawas Tetap Jadi Andalan Satrol TNI AL



Oerlikon 20mm di KRI Kobra 867

Setiap kapal perang keluaran terbaru umumnya sudah dibekali dengan update persenjataan yang juga terbilang anyar dipasaran. Ambil contoh korvet SIGMA TNI AL, hadir dengan sista rudal Exocet MM40, kanon super rapid OTO Melara, dan rudal Mistral Tetral. Tapi dalam pakem kebutuhan militer, apa saja bisa dikreasikan sesuai tuntutan operasi dan tentunya ketersediaan anggaran. Dalam tulisan kali ini, kami ingin sedikit mencermati armada Satrol (Satuan Patroli) TNI AL yang banyak menggunakan kapal buatan dalam negeri, terutama dari tipe PC (Patroli Cepat) 36 dan PC40.
Dimulai pada tahun 2000, Dislitbang TNI AL menyelesaikan prototipe kapal patrol ringan dengan konstruksi lambung berbahan fiberglass dan menerapkan desain teknologi ala siluman (stealth). Nah, cirri khas dari kapal patrol ini salah satunya dilengkapi dudukan senjata kanon 20mm pada bagian haluan. Dinilai efisien dari segi produksi, dan efektif dalam gelar operasi mengamankan perairan dangkal. PC-36 kemudian diproduksi dalam jumlah cukup banyak, yakni masuk dalam kelas Kobra (KRI Kobra dan kelas Boa. Beberapa dari kapal jenis ini bahkan operasionalnya juga didukung oleh pihak Pemda. Sukses dengan PC-36 pada tahun 2004 Dislitbang AL meneruskan pengembangan PC-40 dengan spesifikasi teknis serupa, hanya berbeda dalam ukuran panjang yakni 40 meter. Masuk dalam tipe PC-40 adalah kelas Viper dan Tarihu.
Seperti disinggung diatas, jenis kapal patrol ini dilengkapi dudukan kanon 20mm. Disinilah yang kami anggap menarik. Yang dipasang oleh TNI AL pada kelas Boa dan kelas Kobra adalah tipe kanon Oerlikon 20mm/70 MK4. Termasuk dalam kelas Boa antara lain KRI Boa 807, KRI Welang 808, KRI Suluh Pari 809 dan KRI Katon 810. Sedangkan termasuk dalam kelas Kobra adalah KRI Kobra 867, KRI Anakonda 868, dan KRI Patola 869, KRI Taliwangsa 870. Seluruh kapal dibuat oleh Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (fasharkan) TNI AL . Kapal-kapal ini memperkuat Satrol Armada RI Kawasan Barat.
KRI Kobra 867
KRI Kobra 867

Oerlikon 20mm di KRI Kobra tanpa magasin dan shield
Oerlikon 20mm di KRI Kobra tanpa magasin dan shield
Inilah area bidik target (backfront)/lubang pisir pada sudut juru tembak Oerlikon 20mm di KRI Kobra
Inilah area bidik target (backfront)/lubang pisir pada sudut juru tembak Oerlikon 20mm di KRI Kobra
Bila dirunut dari sejarahnya, senjata yang punya predikat anti aircraft gun ini sudah mulai eksis sejak tahun 1940. Ya, senjata buatan Swiss ini terbilang kampiun dalam laga Perang Dunia Kedua. Mulai dari frigat, kapal perusak, dan kapal induk AS dan Inggris seolah menjadikan Oerlikon 20mm sebagai senjata ringan yang wajib hadir. Mudah dioperasikan dan efektif menghajar target yang terbang rendah menjadi alasan dari kepopuleran Oerlikon di kancah Perang Dunia Kedua, terutama saat menghadapi serangan udara Jepang. Meski kondang diatas kapal perang, Oerlikon 20mm/70 juga ada yang diadaptasi untuk kebutuhan peperangan di darat, yakni dengan dibekali carrier.
Meski masuk hitungan sebagai senjata berusia lanjut, tidak diketahui Oerlikon keluaran tahun berapa yang dipasang pada Satrol TNI AL. Usia boleh jadi sudah sepuh, tapi untuk urusan kemampuan jangan anggap sebelah mata. Kanon ini dipastikan masih punya deteren dalam menghadapi perompak di laut, tiada sasaran di udara, target di permukaan laut juga siap disikat. Dari spesifikasinya, jarak tembak kanon ini bisa mencapai 4000 meter, sementara kecepatan tembaknya hingga 650 peluru per menit. Dengan tipe peluru HE (high explosive), jarak tembak efektifnya adalah 1.000 meter.
Dengan dioperasikan secara manual, kanon ini dapat digerakan untuk sudut 360 derajat. Guna menghadapi target udara, laras kanon dapat dinaikan hingga 85 derajat, dan bila diturunkan laras bisa mentok sampai -15 derajat.Dalam hal bobot, kanon ini punya bobot keseluruhan 264 kg, sedangkan untul larasnya saja mencapai 68 kg. Panjang senjata keseluruhan adalah 2144 mm, sementara panjang larasnya saja 1406 mm.
WNUS_2cm-70_mk234_British_sketch
Tampilan laras dengan magasin dan tanpa magasin
Tampilan laras dengan magasin dan tanpa magasin
Magasin Oerlikon 20mm berbentuk tromol, berisi 60 peluru
Magasin Oerlikon 20mm berbentuk tromol, berisi 60 peluru
Kanon ini menggunakan sistem magasin untuk amunisinya, berbentuk tromol dalam satu magasin bisa memuat 60 peluru. Kapasitas magasin yang terbilang ‘minim’ untuk kelas kanon bisa menjadi tantangan tersendiri bila menghadapi situasi pertempuran intens di laut. Apalagi penggantian magasin masih berisfat manual. Sistem bidik di senjata ini pun masih sangat manual, yakni mengandalkan backsight dan foresight (semacam area pisir). Sadar akan risiko awak senjata yang rawan muntahan proyekti dari lawan, dudukan senjata ini juga dapat dipasankan shield (perisai) lapis baja.
Insiden Blok Ambalat
Anda masih ingat dengan insiden di blok Ambalat pada April 2005? dimana saat itu kapal perang Indonesia, yakni KRI Tedong Naga (819) menyerempet kapal patrol Malaysia, KD Rencong. Hah, KRI Tedong Naga adalah salah satu kapal patrol kelas Boa. Artinya kapal ini mengandalkan jenis senjata Oerlikon 20mm. Entah disengaja atau tidak, kapal jenis ini memang punya senjata tua yang battle proven, selain Oerlikon 20 mm di haluan, setiap kapal PC-36 dan PC-40 dibekali dua pucuk SMB (senapan mesin berat) DShK-38 kaliber 12,7 mm buatan Rusia pada bagian buritan.

Tampilan penuh Oerlikon 20mm berikut dudukan dan magasin
Tampilan penuh Oerlikon 20mm berikut dudukan dan magasin
Selain mengandalkan Oerlikon 20mm, pada sisi buritan juga disematkan dua pucuk  DShk-38
Selain mengandalkan Oerlikon 20mm, pada sisi buritan juga disematkan dua pucuk DShk-38
Bila Anda penasaran dengan sosok senjata ini, untuk melihatnya langsung tak perlu repot. Oerlikon 20 mm MK4 sejak dahulu telah menjadi etalase di museum TNI Satria Mandala, Jakarta. Meski aslinya adalah buatan Swiss, tapi versi yang digunakan TNI adalah buatan GM Corporation dari AS. Untuk Oerlikon 20 mm yang dipajang di Satria Mandala merupakan sisa peninggalan dari KRI Rajawali. Di lokasi yang sama, Anda juga bisa melihat langsung triple gun20 mm yang jadi senjata ikon Paskhas TNI AU.
Untuk versi yang jauh lebih modern, Satrol TNI AL pun juga masih mengandalkan Oerlikon, yaitu dari versi twin cannon kaliber 30mm yang di KRI Badau 643 dan KRI Salawaku 642. Meski usianya sudah lanjut, karena desain yang dipandang unik, Oerlikon 20mm versi laras tunggal kerap menjadi lakon dalam beberapa film action, salah satunya pada film Stealth, Oerlikon dipakai gerilyawan sebagai senjata penangkis serangan udara. (Gilang Perdana)
Oerlikon 20mm beraksi dalam film Stealth
Oerlikon 20mm beraksi dalam film Stealth
sumber : Indomiliter.com

Spesifikasi Oerlikon 20mm/70 MK4
Vendor : GM Corp
Kaliber : 20mm
Panjang Senjata : 2144mm
Panjang Laras : 1406mm
Jarak Tembak Max : 4000 meter
Jarak Tembak Efektif : 1000 meter
Kecepatan tembak : 650 meter/menit
Isi magasin : 60 peluru

Torpedo SAET-50 : Senjata Pamungkas Korps Hiu Kencana Era-60an

Bagi Anda pemerhati bidang kemiliteran, pastinya telah mengenal identitas Whiskey class, ya ini lah jenis kapal selam yang memperkuat arsenal kekuatan Korps Hiu Kencana TNI AL di dasawarsa tahun 60-an. Seperti diketahui, ada 12 kapal selam kelas Whiskey yang sempat dimiliki Indonesia, dan kehadirannya saat itu dimaksudkan sebagai salah satu elemen penggetar dalam operasi Trikora, merebut Irian Jaya dari tangan Belanda.
Seperti banyak ditulis dalam berbagai literatur, keberadaan kapal selam bagi sebuah negara merupakan komponen yang strategis. Beragam fungsi bisa diemban dari adanya kapal selam, mulai dari patroli, intai maritim, penyusupan, hingga perang bawah/atas permukaan laut. Untuk yang terakhir disebut, perang bawah/atas permukaan laut, tentunya bisa berjalan bila kapal selam ditunjang dengan persenjataan yang memadai. Bicara soal senjata kapal selam, jelas yang utama dan tak tergantikan adalah torpedo, setelah itu baru bisa disebut ranjau laut, rudal anti kapal, dan sebagainya.
Sosok torpedo SAET-50 di museum AL Rusia
Tampilan baling-baling pada SAET-50
Nah, guna menapaki sejarah kejayaan militer Indonesia di masa lalu, TNI AL kala itu juga sudah memiliki jenis torpedo yang terbilang canggih pada masanya. Jenis torpedo tersebut adalah SAET (Samonavodiashaiasia Akustisticheskaia Elektricheskaia Torpeda)-50, sebuah torpedo jenis homing akustik yang ditenagai dengan teknologi elektrik. Kecanggihan SAET-50 yakni saat diluncurkan dapat langsung mencari sasaran sendiri (fire and forget) berdasarkan suara baling-baling atau material magnetik yang dipancarkan oleh badan kapal target. Yang cukup menakutkan bagi armada kapal perang Belanda, hulu ledaknya mencapai berat 375 Kg, dan teknologi homing akustik pasif torpedo ini dapat mengendus sasaran mulai dari jarak 600-800 meter.
Selain negara-negara anggota Pakta Warsawa, Indonesia menjadi pengguna pertama, dan yang pasti di Asia baru Indonesia lah yang memiliki torpedo maut ini. Tentu ada udang dibalik batu atas kedatangan torpedo ini, Uni Soviet tentu berharap kinerja SAET-50 dapat dijajal dalam operasi tempur yang sesungguhnya. Operasi Trikora bisa menjadi kampanye keunggulan militer Uni Soviet melawan kubu Blok Barat yang diwakili oleh Belanda.
Jenis torpedo Whiskey Class di Museum Satria Mandala
Sosok torpedo di kompartemen Monkasel KRI Pasopati, Surabaya
Sayangnya, kesaktian SAET-50 tidak pernah dibuktikan untuk menghantam armada kapal Belanda. Karena beragam kepentingan, versi torpedo ini kemudian juga diadaptasi oleh Cina secara lisensi. Dan jadilah torpedo berdiameter 533mm ini dengan versi buatan Cina yang diberi kode Yu-3/Yu-4A dan Yu-4B. Ada beberapa pengembangan yang dilakukan oleh Cina, dimana versi torpedo ini dibuat bukan hanya dalam versi akustik pasif, tapi juga akustik aktif, yakni memancarkan gelombang untuk mencari pantulan dari logam di kapal target. Cina sendiri terus memproduksi torpedo yang berasal dari platform SAET-50 hingga 1987.
SAET-50 versi Cina (Yu-4)
Tabung peluncur torpedo di buritan KRI Pasopati
Tidak ada informasi, berapa unit torpedo SAET-50 yang sempat dimiliki TNI-AL. Secara umum SAET-50 produksi Uni Soviet terbagi dalam dua versi, yakni SAET-50 (digunakan mulai tahun 1950) dan SAET-50M (digunakan mulai tahun 1955). Tidak diketahui jenis mana yang dipunyai oleh TNI AL. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah spesifikasi torpedo SAET-50. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Torpedo SAET-50
Diameter : 533 mm
Berat : 1.650 Kg
Panjang : 7,45 m
Berat Hulu Ledak : 375 Kg
Jangkauan : SAET-50 – 4 Km/SAET-50M – 6 Km
Kecepatan : SAET-50 – 23 knots/ SAET-50M – 29 knots
Sumber Tenaga : Lead Acic Battery
sumber : indomiliter.com

TH-5711 Smart Hunter: Radar Pemandu Rudal Paskhas TNI AU

Bila dirunut kebelakang, nampak TNI kian fokus pada kelengkapan rudal anti serangan udara (SAM/surface to air missile) dengan basis MANPADS (man portable air defence systems).  Ini bisa dilihat dari hadirnya sista rudal Bofors RBS-70, Strela, Mistral, Grom, dan QW-3. Dengan basis MANPADS, rudal dapat dioperasikan secara mandiri oleh satu atau dua orang awak, atau dalam beberapa platform dapat diintegrasikan dengan pola penembakkan otomatis dalam suatu sistem peluncur, dalam hal ini adalah Mistral berpeluncur Tetral dan Grom dengan peluncur Poprad.
Khusus untuk yang dioperasikan secara mandiri, rudal dalam klasifikasi MANPADS punya keunggulan pada fleksibilitas dan mobilitas tinggi. Tapi disisi lain, dengan bobotnya yang ringan, rudal dalam segmen ini hanya memenuhi kaedah SHORAD (short range air defence), alias sistem pertahanan udara jarak dekat, rudal-rudal milik TNI dalam platform MANPADS memang lincah bermanuver dan dapat ditembakkan dari mana saja, tapi soal jangkauan tembaknya terbatas.
SAM SHORAD seperti Mistral, Grom, dan QW-3 rata-rata jarak tembak maksimumnya mencapai 5.000 – 6.000 meter. Dengan kecepatan supersonic, itu artinya target yang disasar “hanya” efektif menguber helikopter dan jet tempur yang terbang rendah dengan kecepatan tinggi. Sementara dalam konteks menghadapi jet tempur yang terbang tinggi diatas 8.000 – 10.000 meter, mungkin kita yang di darat hanya bisa meratap pasrah, sambil berharap semoga jet tempur TNI AU dapat meng-intercept.

Beginilah gelar operasi Smart Hunter dan rudal QW-3, mengandalkan komunikasi berbasis WiFi
Beginilah gelar operasi Smart Hunter dan rudal QW-3, mengandalkan komunikasi berbasis WiFi
Nah, menunjang operasional rudal-rudal diatas, awak rudal tentu tidak bisa beroperasi maksimal tanpa didukung “panca indra” yang memadai. Yang dimaksud disini adalah sistem radar mobile penjejak target. Untuk urusan yang satu ini, TNI kita sudah punya sejarah panjang. Di era tahun 60-an, ada radar Nysa P-30 B/C untuk rudal SA-2, lalu ada radar Giraffe untuk RBS-70, dan MMSR (Mobile Multibeam Search Radar) untuk rudal Grom TNI AD. Dan kini TNI, khususnya Korps Paskhas TNI AU juga punya perangkat radar sejenis, yakni radar TH-5711 Smart Hunter.
Smart Hunter yang buatan Cina merupakan sistem radar yang digunakan untuk memandu awak rudal QW-3 dalam mengetahui arah datangnya target lawan. Maklum arah datangnya pesawat lawan kadang sulit ditemukan secara visual. Dengan demikian, awak rudal dapat mengambil inisiatif pertama untuk melakukan tembakan untuk melumpuhkan pesawat penyusup. Smart Hunter dipasang dalam platform jip 4×4, untuk pesanan Paskhas, digunakan jenis Nissan Frontier 2000 cc dengan warna cat hijau. Dengan jaringan wireless, satu unit Smart Hunter mampu mengendalikan 12 penembak QW-3. Jalur komunikasi antara pusat kendali dan juru tembak mengandalkan gelombang WiFi (wireless fidelity).
09 puspen latgab
Smart Hunter nampak keluar dari C-130 Hercules
Smart Hunter nampak keluar dari C-130 Hercules
Dalam gelar operasi, awak QW-3 dibekali antena portable, radio, dan helm yang dilengkapi alat bidik otomatis yang tehubung ke pusat kendali. Sehingga apa yang dilihat penembak, itu pula yang terpampang di layar kendali. Sementara untuk Smart Hunter, dalam kabin jip terdapat empat personel, terdiri dari komandan unit, pengemudi, dan dua operator sistem untuk ROT (radar operation terminal) dan OCT (operation command terminal). Dengan dukungan antena (bisa dilipat ke dalam body) setinggi 1,5 meter. Radar ini dapat memantau pergerakan pesawat sejauh 20 – 30 kilometer.
Smart Hunter mulai diterima TNI AU pada tahun 2011 lalu, saat ini kabarnya sudah 3 unit yang beroperasi. Dan melihat kebutuhan yang tinggi, terutama untuk pengamanan beberapa pangkalan udara (lanud), Smart Hunter akan didatangkan lebih banyak lagi. Salah satu unjuk kebolehan Smart Hunter yakni pada latgab TNI bulan Mei 2013 lalu, 2 pesawat angkut berat C-130 Hercules TNI AU melaksanakan air landed di bandara Juwata Tarakan. Dalam air landed tersebut diturunkan Smart Hunter, rudal QW-3 dan kanon legendaris Tripe Gun.
Smart Hunter dapat dipasang ke dalam beberapa platform jenis kendaraan 4x4
Smart Hunter dapat dipasang ke dalam beberapa platform jenis kendaraan 4×4
Posisi ketika antena radar dilipat ke dalam body kendaraan
Posisi ketika antena radar dilipat ke dalam body kendaraan
Lepas dari soal kemampuan, kapasitas dan jangkauan, radar Smart Hunter berada di platform kendaraan 4×4, ini artinya menjadi yang terkecil di kelas radar mobile milik TNI. Sebagai perbandingan MMSR untuk rudal Grom menggunakan jip Land Rover Defender 6×6. Sedangkan radar Giraffe Arhanud TNI AD menggunakan platform truk Volvo dan Mercedes Benz. (Haryo Adjie Nogo Seno)

KRI Badau 841: Kapal Perang Tercanggih Armada Satrol TNI AL


Meski lincah dalam bermanuver dan bisa ngebut untuk mengejar speed boat perompak, kapal perang di Satrol umumnya hanya dibekali persenjataan secara terbatas. Jangan bicara soal rudal dan torpedo di Satrol, karena kedua senjata tadi di lingkungan TNI AL sudah menjadi ‘pegangan’ Satuan Kapal Eskorta yang terdiri dari frigat dan korvet, dan Satuan Kapal Cepat yang terdiri dari unsur KCR (Kapal Cepat Rudal) dan KCT (Kapal Cepat Torpedo). Di lingkungan Satrol TNI AL, hingga kini  senjata penggebuk kriminal di lautan maksimum masih dipercayakan pada kanon Bofors 40mm, kanon Bofors ini terdapat pada kapal patroli jenis Attack Class buatan Australia. Sementara kebanyakan sebatas mengadopsi kanon Oerlikon 20mm, dan SMB (senapan mesin berat) kaliber 12,7mm.
Karena fungsi patroli yang cukup menantang, ditambah luasnya coverage yang harus dipantau, Satrol TNI AL terbilang satuan yang paling banyak memiliki unit kapal dalam binaannya. Dikutip dari situs Wikipedia.org, setidaknya ada kelas Boa (9 kapal), kelas Viper (5 kapal), kelas Kobra (5 kapal), kelas Tarihu (4 kapal), kelas Krait (2 kapal), kelas Cucut (2 kapal), kelas Sibarau (7 kapal), kelas PC-43 (1 kapal), dan kelas Badau (2 kapal). Sebagian besar kapal di Satrol TNI AL merupakan buatan Dalam Negeri oleh Fasharkan (Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan) TNI AL, seperti kelas Boa, Viper, Kobra, Tarihu, dan Krait. Kecuali kelas Krait yang berlambung bahan alumunium, Boa, Viper, Kobra, dan Tarihu mengandalkan bahan fiberglass untuk lambung kapalnya.
2
KDB Waspada P02 (sekarang KRI Salawaku 842) dan KDB Seteria P04, tampak saat kunjungan memeriahkan Arung Samudra Tahun 1995 di Tanjung Priok.
MM-38 Exocet adalah senjata andalan kapal patroli ini
MM-38 Exocet adalah senjata andalan kapal patroli ini
Untuk kelas Cucut, kelas Sibarau (Attack Class), dan kelas Badau memang buatan Luar Negeri, tapi kesemuanya berasal dari bekas pakai dari Angkatan Laut Negeri Tetangga. Pengadaanya bisa lewat pembelian atau pun hibah. KRI Cucut 866 misalnya, dulunya adalah kapal patroli Singapura RSS Jupiter. Kemudian KRI Sibarau 847, dulunya adalah HMAS Bandolier, diperoleh TNI AL melalui prorgram hibah dari Australia pda tahun 1973. Dan yang relatif baru adalah KRI Badau 841 dan KRI Salawaku 841, kedua kapal perang kembar ini merupakan hibah dari Kerajaan Brunei pada 15 April 2011.
Sesuai judul tulisan, KRI Badau dan juga KRI Salawaku disebut sebagai yang tercanggih di kelas Satrol, lantaran platform awal dari dua kapal ini terbilang paling maju diantara kapal-kapal di kelas Satrol. KRI Badau 841 (ex KDB/Kapal Diraja Brunei –  Pejuang P03)  dan KRI Salawaku (ex KDB Waspada P02) aslinya bisa menggotong rudal anti kapal (anti ship missile) jenis MM-38 Exocet, satu kapal terdiri dari dua platform peluncur. Dengan standar kapal cepat rudal, sudah lumrah bila sistem elektroniknya lumayan memadai untuk peperangan laut, sebut saja ada radar Kelvin Hughes Type 1007 nav (surface search). Juga dilengkapi sista untuk perang elektronik (electronic warfare) dengan Decca RDL-2 Intercept dan E/O Rademac 2500 Tracking.
Tampilan sisi buritan
Tampilan sisi buritan
Animo masyarakat pada kedua kapal saat Arung Samudra 1995
Animo masyarakat pada kedua kapal saat Arung Samudra 1995
Selain rudal Exocet, untuk menghajar target di permukaan dan anti serangan udara, dipercayakan pada Oerlikon twin cannon CGM-B01 kaliber 30 mm. Khusus untuk kanon ini telah kami kupas secara mendalam disini. Senjata lain yang disertakan adalah 2 unit SMS (senapan mesin sedang) kaliber 7,62 mm untuk pertahanan diri jarak dekat. Kapal jenis ini dapat menampung 4 perwira dan 20 ABK (anak buah kapal)
Dilihat dari spesifikasi mesin, kapal ex-Brunei ini juga cukup perkasa, ditengai dua mesin diesen MTU 20V 538 TB91b 9000 bhp. Kecepatan maksimumnya yakni 32 knots (59 km/jam), sementara kecepatan jelajahnya 14 knots. Jarak jelajahnya hingga 1.200 nm atau 2.200 km. Kapasitas bahan bakar yang dapat dibawa adalah 16 ton.
Dirunut dari sejarahnya, kedua kapal patroli ini dibuat oleh galangan kapal Vosper Thornycroft, Singapura. KDB Pejuang P03 (KRI Badau) meluncur sejak tahun 1979, sedangkan KDB Waspada P02 (KRI Salawaku) meluncur di tahun 1978. Meski kedua kapal perang ini ‘kembar,’ tapi ada perbedaan sedikit, ini bisa dilihat dari desain deck anjungan atas. Pada KRI Badau menggunakan deck terbuka dengan penutup canvas, sementara KRI Salawaku deck atasnya tertutup, seperti halnya deck anjungan dibawah.
Oerlikon Twin cannon 30mm pada sisi haluan
Oerlikon Twin cannon 30mm pada sisi haluan
Dari Satuan Kapal Cepat ke Satuan Kapal Patroli
Saat pertama kali kedua kapal ini diserahkan dan kemudian diresmikan sebagai arsenal armada TNI AL. KRI Badau dan KRI Salawaku masuk sebagai elemen satuan kapal cepat. Hal ini ditandai dengan nomer lambungnya, KRI Badau 643 dan KRI Salawaku 642. Dari segi identitas lambung, 6xx memang menjadi penanda kapal cepat di lingkungan TNI AL, baik kapal cepat rudal dan torpedo.
Meski KRI Badau dan KRI Salawaku aslinya bisa dilengkapi rudal, tapi pada kenyataan saat kapal ini diserahkan ke Indonesia sudah tidak lagi dilengkapi rudal. Belum diketahui, bagaimana dengan sistem elektronik dan navigasi kapal, apakah ikut ‘dikurangi’ kemampuannya. Secara teori, bukan tak mungkin bila Badau dan Salawaku di setting kembali untuk dipasangi rudal anti kapal jenis C-705 dan C-802 buatan Cina. Tapi menurut penuturan mantan perwira di KRI Badau, body kapal patrol tersebut dinilai sudah cukup tua, sehingga kurang pas bila dipasangi rudal anti kapal.
KRI Badau, saat masih menjadi KDB Pejuang P03
KRI Badau, saat masih menjadi KDB Pejuang P03
KRI Badau dan KRI Salawaku dengan nomer lambung lama, saat menjadi arsenal Satuan Kapal Cepat TNI AL
KRI Badau dan KRI Salawaku dengan nomer lambung lama, saat menjadi arsenal Satuan Kapal Cepat TNI AL
Seiring kedua kapal patroli yang tak bisa tampil maksimal dari sisi kesenjataan, KRI Badau dan KRI Salawaku kini di reorganisasi menjadi kelas kapal di satuan kapal patrol, nomer lambung kapal pun berubah, KRI Badau dari 643 menjadi 841 dan KRI Salawaku dari 642 ke 842. Awalnya kedua kapal melengkapi Armabar, kini dialih tugaskakan pada Armatim. Perubahan identitas lambung kapal juga marak sebelumnya, seperti KRI Barakuda dari jenis FPB-57, yang tadinya 814 jadi 633, KRI Todak yang tadinya 803 jadi 631. Seiring penataan numbering lambung pada kapal perang TNI AL, kini armada patroli di identifikasi dengan nomer 8xx.
Seandainya KRI Badau dan KRI Salawaku dapat dilengkapi kembali dengan MM-38 Exocet, maka kedua kapal perang ini bisa punya daya gempur yang hampir setara dengan KCR kelas Dagger (KRI Mandau, KRI Rencong, KRI Keris, dan KRI Badik ). Keempat kapal buatan Korea Selatan ini juga dipersenjatai MM-38 Exocet sebanyak 4 peluncur pada tiap kapal. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi KRI Badau 841
  • Tipe                       :               Fast attack craft
  • Bobot                    :               206 tons (full load)
  • Panjang                                :               37 meter
  • Draft                      :               1.8 meter
  • Mesin                   :               2 MTU 20V 538 TB91 diesels
  • Kecepatan          :               32 knots (59 km/h)
  • Jarak jelajah     :               200 nautical miles (2,200 km) at 14 knots (26 km/h)
  • Sensors and processing systems                               : Kelvin Hughes Type 1007 (surface search)
  • Electronic warfare           :               Decca RDL ESM

KRI Gadjah Mada: Flagship dan Destroyer Pertama TNI AL


KRI Gadjah MadaKRI Gadjah Mada

Dalam gelar kekuatan militer, adalah hal yang wajar bila suatu angkatan laut memiliki flagship. Bila dicerna lebih dalam, flagship adalah kapal utama yang punya spesifikasi persenjataan paling mumpuni di suatu armada. TNI AL, sebagai kekuatan laut terbesar di Asia Tenggara dengan sejarah panjang dalam pengabdiannya, mengenal flagship dalam beberapa periode.Dalam konteks kekinian, korvet kelas SIGMA (kelas Diponegoro) bisa dianggap sebagai flagship TNI AL, karena dari segi alutsista dan perangkat pendukung kapal buatan Belanda ini adalah yang paling canggih. Mundur ke dekade 90-an, frigat kelas Van Speijk yang dibeli second dari Belanda adalah yang paling canggih dimasanya. Mundur lagi ke dekade 80-an, kita mengenal frigat kelas Fatahillah (KRI Fatahillah, KRI Malayahati, dan KRI Nala) adalah kapal perang termodern dikala itu, bahkan kapal ini dibeli gres alias baru, juga dari Belanda. Bagaimana flagship TNI AL di tahun 70-an? Ada tiga perusak kawal (destroyer escort) kelas Claude Jones yang statusnya bekas pakai dari AL AS.
Dan flash back jauh ke masa lampau, saat militer Indonesia menjadi “Macan Asia” di tahun 60-an. Adalah KRI Irian menjadi flagship nomer wahid yang dipunyai TNI AL, bahkan kala itu tiada tandingan untuk penjelajah ringan ini di kawasan Asia Tenggara dan Australia. Adanya flagship dalam beberapa periode, menyiratkan ‘kematangan’ TNI AL dalam menyikapi modernisasi sistem senjata sesuai jamannya.
KRI Irian
KRI Irian
Masih terkait flagship armada TNI AL, penulis mengajak kita semua merenung kembali ke masa lampau, bahkan sebelum era datangnya KRI Irian dan beragam alutsista buatan Uni Soviet. Bahwa di awal tahun 50-an TNI AL (kala itu ALRI) sudah pula mengenal keberadaan flagship. Mengutip ungkapan Bung Karno, Jasmerah (Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah), maka keberadaan kapal perang yang satu ini rasanya pantas diketahui seluk beluknya lebih dalam, walau sosoknya sudah tak bisa dilihat, tapi KRI (RI) Gadjah Mada, demikian nama kapal ini, menjadi cikal bakal bangkitnya modernisasi alutsista di lingkungan TNI AL.
HMS Nonpareil (G16)
Berawal dari Konferensi Meja Bundar
Setelah melewati perjuangan yang panjang, akhirnya Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan dari pemerintah Belanda lewat konferensi Meja Bundar di tahun 1949. Salah satu hasil dari KMB adalah pihak Belanda menghibahkan beberapa persenjataannya untuk militer Indonesia. Selain P-51D Mustang, dan tank Sherman, Belanda juga menghibahkan kapal perusak (destroyer) kelas N pada tahun 1951. Sebelum dihibahkan ke Indonesia, nama kapal ini adalah HrMs Tjerk Hiddes. Destroyer ini aktif berperang selama Perang Dunia Kedua.
Tidak ditehui jelas berapa nomer lambung KRI Gadjah Mada. Tapi yang cukup menarik, perusak dengan 247 awak ini punya banyak “saudara,” artinya tidak dibuat dalam wujud satu unit. Dirunut dari sejarahnya destroyer kelas N dibuat di Inggris oleh galangan W. Denny & Bros, Dumbarton di tahun 1939. Jumlah destroyer kelas N total ada 9 unit, dimana kesemuanya diperuntukkan bagi AL Inggris (Royal Navy). Kesembilan kapal itu adalah HMS Noble (G84), HMS Nonpareil (G16), HMS Napier (G97), HMS Nestor (G02), HMS Nizam (G38), HMS Norman (G49), HMS Nepal (G25), dan HMS Nerissa (G65).
HrMs Tjerk Hiddes JT-5
HrMs Tjerk Hiddes JT-5
Kembaran HrMs Tjerk Hiddes, yakni HrMs Van Galen, tampak dalam foto sedang melakukan isi bahan bakar dari tanker
Kembaran HrMs Tjerk Hiddes, yakni HrMs Van Galen, tampak dalam foto sedang melakukan isi bahan bakar dari tanker
Menyusul berkecamuknya Perang Dunia Kedua, Inggris berinisiatif untuk menghibahkan kesembilan kapal tadi ke negara-negara sekutu, maklum saat itu sekutu harus melawan NAZI Jerman. Dua kapal, HMS Noble (G84), HMS Nonpareil (G16) dihibahkan ke AL Belanda. Kemudian lima kapal, HMS Napier (G97), HMS Nestor (G02), HMS Nizam (G38), HMS Norman (G49), HMS Nepal (G25) dihibahkan ke AL Australia, dan sisanya HMS Nerissa dihibah ke AL Polandia. Nah, kemudian kisahnya mengerucut pada destroyer yang resmi dihibahkan ke Belanda pada tahun 1942. HMS Noble kemudian berganti nama jadi  HrMs Van Galen, dan HMS Nonpareil berganti nama jadi HrMs Tjerk Hiddes. Sebelum berpindah tangan ke Belanda, kapal perusak ini aktif ‘membentengi’ Scapa Flow, yaitu pangkalan utama armada AL Inggris di pesisir utara Skotlandia, dari serangan torpedo U-Boat Jerman.
6838702894_6d9e34339e_z
HMS Nestor, juga satu varian dengan KRI Gadjah Mada
Setelah memperkuat AL Kerajaan Belanda, HrMs Tjerk Hiddes banyak ditugaskan di perairan Timur Tengah, perairan Afika Selatan, hingga palagan Pasifik. Kebanyakan misi perusak ini adalah melindungi konvoi kapal dagang dari serangan AL Jerman.
Lebih dalam tentang sosok HrMs Tjerk Hiddes, peletakan lunas pertama kapal ini dilakukan pada 22  Mei 1940 di galangan W. Denny & Bros, Dumbarton, Inggris. Kemudian selagi menyandang nama HMS Nonpareil, resmi diluncurkan pada 25 Juni 1941 dengan identitas pada lambung G-16. Seiring waktu berjalan, kapal diserahkan kepada AL Belanda pada 6 Mei 1942, kala itu sedang puncaknya Perang Dunia Kedua. Selama menjadi arsenal kekuatan AL Belanda,  HrMs Tjerk Hiddes diketahui sempat beberapa kali dilakukan pergantian nomer lambung, seperti JT (Jaeger Torpedo)-5 dan D-806.
Dari sisi persenjataan, kapal perusak dengan berat kosong 1.670 ton ini dibekali senjata tempur utama berupa 6 unit meriam 4.7 inchi kaliber 120mm, 4 unit kanon Pompom MK8 kaliber 40mm, dan 6 unit kanon Oerlikon kaliber 20mm. Itu baru senjata untuk melahap target di permukaan dan udara, guna menghadapi kapal selam tersedia heavy torpedo, yakni 2 unit peluncur torpedo MK9 21 inchi, dimana tiap modul peluncur terdapat 5 torpedo yang siap dilepaskan. Menyadari tugas utamanya menghancurkan kapal selam, kapal perusak ini juga dilengkapi mortir anti kapal selam dan bom laut lewat 1 rel. Media penjejak kapal selam dipercayakan pada perangkat akustik 123 A Asdic. Dari sisi persenjataan yang melekat, sebagian besar adalah rancangan dari era Perang Dunia Pertama.
6901477276_29000c1bec_z
6339450334_92fb14a0cc_z
KRI Gadjah Mada
Seperti disebutkan sebelumnya, HrMs Tjerk Hiddes dihibahkan ke Indonesia pada tahun 1951. Saat itu, inilah kapal perang terbesar yang dimiliki TNI AL, maklum waktu usia ALRI masih sangat muda, selain awak yang masih hijau, umumnya kapal yang ada masih berupa tug boat yang dipersenjatai kanon ringan. Adanya KRI Gadjah Mada adalah berkah tersendiri, sekaligus lompatan teknologi yang besar pada masa itu.
Senjata andalan pada KRI Gadjah Mada adalah 6 unit meriam 4.7 inchi Vickers MK XIV  kaliber 120mm,  Meriam Vickers MK XIV ini menggunakan pola tembakan semi otomatis, mempunyai jarak tembak maksimum 14.632 meter, dan jarak tembak efektif 9.144 meter. Sisa kapalnya memang tidak dapat kita jumpai, karena sudah di scrap pada 1961. Tapi sisa meriam 120mm-nya masih dapat Anda lihat hingga kini, yakni di Museum Satria Mandala. Meriam ini sekaligus menjadi koleksi meriam terbesar di museum tersebut.
Meriam 4.7 inchi Vickers MK XIV  kaliber 120mm di Museum Satria Mandala
Meriam 4.7 inchi Vickers MK XIV kaliber 120mm di Museum Satria Mandala
IMAG0135
IMAG0136
Usia mesin turbin yang cukup tua, biaya operasional yang tinggi, serta sistem senjata yang sudah ‘kuno,’ menjadi dasar dibesituakannya Gadjah Mada. Sebelum di scrap, kabarnya kapal ini sempat dijadikan kapal latih. Mengenai penugasan dalam operasi militer, KRI Gadjah Mada dilibatkan secara penuh dalam mendukung penumpasan PRRI Permesta tahun 1958.
Nama Gadjah Mada, setidaknya dua kali dipakai dalam arsenal ALRI (TNI AL), sebelumnya ada RI Gadjah Mada dalam wujud tug boat yang dipersenjatai kanon Oerlikon 20mm, kapal ini rusak dan tenggelam dalam pertempuran di laut Cirebon pada 5 Januari 1947. Kemudian nama Gadjah Mada ‘dibangkitkan’ kembali untuk sosok destroyer pertama TNI AL.
QF_4_inch_Mk_V_gun_HMAS_Sydney_1941_AWM_005707
Dilengkapi shield
Dilengkapi shield
Pada versi di haluan, dilengkapi perisai yang menyerupai kubah.
Pada versi di haluan, dilengkapi perisai yang menyerupai kubah.
Selain KRI Gadjah Mada, TNI AL mendapatkan lagi generasi destroyer, yakni kelas Almirante Clemente (2 unit) buatan Italia, didatangkan pada periode 1957 – 1959. Kemudian menyongsong operasi Trikora, TNI AL kedatangan destroyer kelas Skorry (8 unit) buatan Uni Soviet yang dibeli RI dari Polandia di tahun 1964. Dan terakhir, di tahun 70-an TNI AL memiliki perusak kawal kelas Claude Jones (4 unit), armada destroyer escort ini mengakhiri pengabdiannya pada tahun 2003 lalu. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Catatan: Di tahun 60-an dan sebelumnya, identitas kapal perang Indonesia disebut RI (Repoeblik Indonesia) dan belum menjadi KRI (Kapal Perang Republik Indonesia), penulisan KRI Gadjah Mada dan KRI Irian pada tulisan ini lebih untuk memperkuat pemahaman bagi pembaca secara luas, karena penyebutan identitas KRI dipandang lebih populer.
Spesifikasi KRI Gadjah Mada
  • Tipe                       : Destroyer
  • Dimensi                : 99,5 x 10,9 x 2,74 meter
  • Berat kosong     : 1.670 ton
  • Berat penuh       : 2.330 ton
  • Mesin                   : 2 steam turbin dengan dua baling-baling
  • Tenaga                 : 4000 hp
  • Kecepatan max : 36 knots
  • Kecepatan Jelajah           : 15 knots
  • Kapasitas BBM  : 611 ton
  • Jarak Jelajah       : 5.400 nm
  • Awak                     : 183 – 247 orang

Selasa, 23 Juli 2013

Posisi Kekuatan militer Indonesia di Kanca Asia pada tahun 2013

Editor : Kaidir Maha Leuwalang
Indonesia berada urutan ke-5 dalam " The top Asian Powers 2013"


 

 

Selamat datang di Lembata Cyber intelligence

Semoga Anda merasa Bermanfaat bergabung dengan kami

Blog ini adalah bagian dari pergerakan anak bangsa yang peduli akan nasib bangsa dan negara,Dengan agen dunia maya yang kami bentuk merupakan bagian terpenting sebagai generasi mudah melanjutkan cita-cita luhur para pejuang bangsa dan negara ini yang rela dengan mati di medan perang

Halaman Facebook lembata cyber intelligence

Saudara bisa bergabung : KLIK DISINI

Member Login

Lost your password?

Not a member yet? Sign Up!