Makalah Filsafat Ilmu
Oleh: Uhar SuharsaPutra,
M.Pd
I. PENDAHULUAN
Metode-metode dan penemuan-penemuan sains modern telah mendominasi
dunia, dan filsafat hanya dianggap sebagai pelayan sains. Kesuksesan dan
kemajuan ilmiah telah diterima sebagai kebenaran, konsepsi dunia ilmiah
mendikte apa yang boleh diterima secara filosofis, karena filsafat
diturunkan menjadi peran sekunder, tugas justifikasi sains tidak lagi
dianggap esensial. Sain menentukan apa yang dimaksud dengan kebenaran,
dan tidak ada ruang untuk mempertanyakan apakah sain satu-satunya
kebanaran atau hanya sebuah jalan menuju kebenaran.(R. Trigg, dalam
Rationality and Science)
II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat Ilmu
Dilihat dari segi katanya filsafat ilmu dapat dimaknai sebagai filsafat
yang berkaitan dengan atau tentang ilmu. Filsafat ilmu merupakan bagian
dari filsafat pengetahuan secara umum, ini dikarenakan ilmu itu sendiri
merupakan suatu bentuk pengetahuan dengan karakteristik khusus, namun
demikian untuk memahami secara lebih khusus apa yang dimaksud dengan
filsafat ilmu, maka diperlukan pembatasan yang dapat menggambarkan dan
memberi makna khusus tentang istilah tersebut.
Para akhli telah banyak mengemukakan definisi/pengertian filsafat ilmu
dengan sudut pandangnya masing-masing, dan setiap sudut pandang tersebut
amat penting guna pemahaman yang komprehensif tentang makna filsafat
ilmu, berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi filsafat ilmu :
- The philosophy of science is a part of philosophy which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience (Peter Caws)
- The philosophy of science attemt, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry-observational procedures, patterns of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presupposition, and so on, and then to evaluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology anf metaphysics (Steven R. Toulmin).
- Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole (L. White Beck)
- Philosophy of science.. that philosophic discipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presupposition, and its place in the general scheme of intelectual discipline (A.C. Benyamin)
- Philosophy of science.. the study of the inner logic of scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e of scientific method (Michael V. Berry)
Pengertian-pengertian di atas menggambarkan variasi pandangan beberapa
akhli tentang makna filsafat ilmu. Peter Caw memberikan makna filsafat
ilmu sebagai bagian dari filsafat yang kegiatannya menelaah ilmu dalam
kontek keseluruhan pengalaman manusia, Steven R. Toulmin memaknai
filsafat ilmu sebagai suatu disiplin yang diarahkan untuk menjelaskan
hal-hal yang berkaitan dengan prosedur penelitian ilmiah, penentuan
argumen, dan anggapan-anggapan metafisik guna menilai dasar-dasar
validitas ilmu dari sudut pandang logika formal, dan metodologi praktis
serta metafisika. Sementara itu White Beck lebih melihat filsafat ilmu
sebagai kajian dan evaluasi terhadap metode ilmiah untuk dapat difahami
makna ilmu itu sendiri secara keseluruhan, masalah kajian atas metode
ilmiah juka dikemukakan oleh Michael V. Berry setelah mengungkapkan dua
kajian lainnya yaitu logika teori ilmiah serta hubungan antara teori
dan eksperimen, demikian juga halnya Benyamin yang memasukan masalah
metodologi dalam kajian filsafat ilmu disamping posisi ilmu itu sendiri
dalam konstelasi umum disiplin intelektual (keilmuan).
Menurut The Liang Gie, filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif
terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut
landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi kehidupan manusia.
Pengertian ini sangat umum dan cakupannya luas, hal yang penting untuk
difahami adalah bahwa filsafat ilmu itu merupakan telaah kefilsafatan
terhadap hal-hal yang berkaitan/menyangkut ilmu, dan bukan kajian di
dalam struktur ilmu itu sendiri. Terdapat beberapa istilah dalam pustaka
yang dipadankan dengan Filsafat ilmu seperti : Theory of science, meta
science, methodology, dan science of science, semua istilah tersebut
nampaknya menunjukan perbedaan dalam titik tekan pembahasan, namun semua
itu pada dasarnya tercakup dalam kajian filsafat ilmu .
Sementara itu Gahral Adian mendefinisikan filsafat ilmu sebagai cabang
filsafat yang mencoba mengkaji ilmu pengetahuan (ilmu) dari segi
ciri-ciri dan cara pemerolehannya. Filsafat ilmu selalu mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang mendasar/radikal terhadap ilmu seperti
tentang apa ciri-ciri spesifik yang menyebabkan sesuatu disebut ilmu,
serta apa bedanya ilmu dengan pengetahuan biasa, dan bagaimana cara
pemerolehan ilmu, pertanyaan - pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk
membongkar serta mengkaji asumsi-asumsi ilmu yang biasanya diterima
begitu saja (taken for granted), Dengan demikian filsafat ilmu merupakan
jawaban filsafat atas pertanyaan ilmu atau filsafat ilmu merupakan
upaya penjelasan dan penelaahan secara mendalam hal-hal yang berkaitan
dengan ilmu.
Secara historis filsafat merupakan induk ilmu, dalam perkembangannya
ilmu makin terspesifikasi dan mandiri, namun mengingat banyaknya masalah
kehidupan yang tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat menjadi
tumpuan untuk menjawabnya, filsafat memberi penjelasan atau jawaban
substansial dan radikal atas masalah tersebut, sementara ilmu terus
mengembangakan dirinya dalam batas-batas wilayahnya, dengan tetap
dikritisi secara radikal, proses atau interaksi tersebut pada dasarnya
merupakan bidang kajian Filsafat Ilmu, oleh karena itu filsafat ilmu
dapat dipandang sebagai upaya menjembatani jurang pemisah antara
filsafat dengan ilmu, sehingga ilmu tidak menganggap rendah pada
filsafat, dan filsafat tidak memandang ilmu sebagai suatu pemahaman atas
alam secara dangkal.
B. Orientasi Filsafat Ilmu
Setelah mengenal pengertian dan makna apa itu filsafat dan apa iti ilmu, maka pemahaman mengenai filsafat ilmu tidak akan terlalu mengalami kesulitan. Hal ini tidak berarti bahwa dalam memaknai filsafat ilmu tinggal menggabungkan kedua pengertian tersebut, sebab sebagai suatu istilah, filsafat ilmu telah mengalami perkembangan pengertian serta para akhli pun telah memberikan pengertian yang bervariasi, namun demikian pemahaman tentang makna filsafat dan makna ilmu akan sangat membantu dalam memahami pengertian dan makna filsafat ilmu (Philosophy of science).
Pada dasarnya filsafat ilmu merupakan kajian filosofis terhadap hal-hal
yang berkaitan dengan ilmu, dengan kata lain filsafat ilmu merupakan
upaya pengkajian dan pendalaman mengenai ilmu (Ilmu Pengetahuan/Sains),
baik itu ciri substansinya, pemerolehannya, ataupun manfaat ilmu bagi
kehidupan manusia. Pengkajian tersebut tidak terlepas dari acuan pokok
filsafat yang tercakup dalam bidang ontologi, epistemologi, dan axiologi
dengan berbagai pengembangan dan pendalaman yang dilakukan oleh para
akhli.
Secara historis filsafat dipandang sebagai the mother of sciences atau
induk segala ilmu, hal ini sejalan dengan pengakuan Descartes yang
menyatakan bahwa prinsip-prinsip dasar ilmu diambil dari filsafat.
Filsafat alam mendorong lahirnya ilmu-ilmu kealaman, filsafat sosial
melahirkan ilmu-ilmu sosial, namun dalam perkembangannya dominasi ilmu
sangat menonjol, bahkan ada yang menyatakan telah terjadi upaya
perceraian antara filsafat dengan ilmu, meski hal itu sebenarnya hanya
upaya menyembunyikan asal usulnya atau perpaduannya seperti terlihat
dari ungkapkan Husein Nasr (1996) bahwa :
meskipun sains modern mendeklarasikan independensinya dari aliran
filsafat tertentu, namun ia sendiri tetap berdasarkan sebuah pemahaman
filosofis partikular baik tentang karakteristik alam maupun pengetahuan
kita tentangnya, dan unsur terpenting di dalamnya adalah Cartesianisme
yang tetap bertahan sebagai bagian inheren dari pandangan dunia ilmiah
modern. dominasi ilmu terutama aplikasinya dalam bentuk teknologi telah
menjadikan pemikiran-pemikiran filosofis cenderung terpinggirkan, hal
ini berdampak pada cara berfikir yang sangat pragmatis-empiris dan
partial, serta cenderung menganggap pemikiran radikal filosofis sebagai
sesuatu yang asing dan terasa tidak praktis, padahal ilmu yang
berkembang dewasa ini di dalamnya terdapat pemahaman filosofis yang
mendasarinya sebagaimana kata Nasr .
Perkembangan ilmu memang telah banyak pengaruhnya bagi kehidupan
manusia, berbagai kemudahan hidup telah banyak dirasakan, semua ini
telah menumbuhkan keyakinan bahwa ilmu merupakan suatu sarana yang
penting bagi kehidupan, bahkan lebih jauh ilmu dianggap sebagai dasar
bagi suatu ukuran kebenaran. Akan tetapi kenyataan menunjukan bahwa
tidak semua masalah dapat didekati dengan pendekatan ilmiah, sekuat
apapun upaya itu dilakukan, seperti kata Leenhouwers yang menyatakan:
Walaupun ilmu pengetahuan mencari pengertian menerobos realitas sendiri,
pengertian itu hanya dicari di tataran empiris dan eksperimental. Ilmu
pengetahuan membatasi kegiatannya hanya pada fenomena-fenomena, yang
entah langsung atau tidak langsung, dialami dari pancaindra. Dengan kata
lain ilmu pengetahuan tidak menerobos kepada inti objeknya yang sama
sekali tersembunyi dari observasi. Maka ia tidak memberi jawaban prihal
kausalitas yang paling dalam.
pernyataan di atas mengindikasikan bahwa adalah sulit bahkan tidak
mungkin ilmu mampu menembus batas-batas yang menjadi wilayahnya yang
sangat bertumpu pada fakta empiris, memang tidak bisa dianggap sebagai
kegagalan bila demikian selama klaim kebenaran yang disandangnya
diberlakukan dalam wilayahnya sendiri, namun jika hal itu menutup pintu
refleksi radikal terhadap ilmu maka hal ini mungkin bisa menjadi ancaman
bagi upaya memahami kehidupan secara utuh dan kekayaan dimensi di
dalamnya.
Meskipun dalam tahap awal perkembangan pemikiran manusia khususnya jaman
Yunani kuno cikal bakal ilmu terpadu dalam filsafat, namun pada tahap
selanjutnya ternyata telah melahirkan berbagai disiplin ilmu yang
masing-masing mempunyai asumsi filosofisnya (khususnya tentang manusia)
masing-masing. Ilmu ekonomi memandang manusia sebagai homo economicus
yakni makhluk yang mementingkan diri sendiri dan hedonis, sementara
sosiologi memandang manusia sebagai homo socius yakni makhluk yang
selalu ingin berkomunikasi dan bekerjasama dengan yang lain, hal ini
menunjukan suatu pandangan manusia yang fragmentaris dan kontradiktif,
memang diakui bahwa dengan asumsi model ini ilmu-ilmu terus berkembang
dan makin terspesialisasi, dan dengan makin terspesialisasi maka
analisisnya makin tajam, namun seiring dengan itu hasil-hasil penelitian
ilmiah selalu berusaha untuk mampu membuat generalisasi, hal ini nampak
seperti contradictio in terminis (pertentangandalam istilah)
Dengan demikian eksistensi ilmu mestinya tidak dipandang sebagai sesuatu
yang sudah final, dia perlu dikritisi, dikaji, bukan untuk
melemahkannya tapi untuk memposisikan secara tepat dalam batas
wilayahnya, hal inipun dapat membantu terhindar dari memutlakan ilmu dan
menganggap ilmu dan kebenaran ilmiah sebagai satu-satunya kebenaran,
disamping perlu terus diupayakan untuk melihat ilmu secara integral
bergandengan dengan dimensi dan bidang lain yang hidup dan berkembang
dalam memperadab manusia. Dalam hubungan ini filsafat ilmu akan
membukakan wawasan tentang bagaimana sebenarnya substansi ilmu itu, hal
ini karena filsafat ilmu merupakan pengkajian lanjutan, yang menurut
Beerleng, sebagai Refleksi sekunder atas illmu dan ini merupakan syarat
mutlak untuk menentang bahaya yang menjurus kepada keadaan cerai berai
serta pertumbuhan yang tidak seimbang dari ilmu-ilmu yang ada, melalui
pemahaman tentang asas-asas, latar belakang serta hubungan yang
dimiliki/dilaksanakan oleh suatu kegiatan ilmiah.
C. Perkembangan Filsafat Ilmu
Secara umum dapat dikatakan bahwa sejak perang dunia ke 2, yang telah menghancurkan kehidupan manusia, para Ilmuwan makin menyadari bahwa perkembangan ilmu dan pencapaiannya telah mengakibatkan banyak penderitaan manusia , ini tidak terlepas dari pengembangan ilmu dan teknologi yang tidak dilandasi oleh nilai-nilai moral serta komitmen etis dan agamis pada nasib manusia , padahal Albert Einstein pada tahun 1938 dalam pesannya pada Mahasiswa California Institute of Technology mengatakan “ Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan perhatian pada masalah besar yang tak kunjung terpecahkan dari pengaturan kerja dan pemerataan benda, agar buah ciptaan dari pemikiran kita akan merupakan berkah dan bukan kutukan terhadap kemanusiaan (Jujun S Suriasumantri, 1999 : 249 ).
Akan tetapi penjatuhan bom di Hirosima dan Nagasaki tahun 1945
menunjukan bahwa perkembangan iptek telah mengakibatkan kesengsaraan
manusia , meski disadari tidak semua hasil pencapaian iptek demikian,
namun hal itu telah mencoreng ilmu dan menyimpang dari pesan Albert
Einstein, sehingga hal itu telah menimbulkan keprihatinan filosof
tentang arah kemajuan peradaban manusia sebagai akibat perkembangan ilmu
(Iptek) .
Untuk itu nampaknya para filosof dan ilmuan perlu merenungi apa yang
dikemukakan Harold H Titus dalam bukunya Living Issues in Pilosophy
(1959), beliau mengutif beberapa pendapat cendikiawan seperti Northrop
yang mengatakan “ it would seem that the more civilized we become , the
more incapable of maintaining civilization we are”, demikian juga
pernyataan Lewis Mumford yang berbicara tentang “the invisible breakdown
in our civiliozation : erosion of value, the dissipation of human
purpose, the denial of any dictinction between good and bad, right or
wrong, the reversion to sub human conduct” (Harold H Titus, 1959 : 3)
Ungkapan tersebut di atas hanya untuk menunjukan bahwa memasuki
dasawarsa 1960-an kecenderungan mempertanyakan manfaat ilmu menjadi hal
yang penting, sehingga pada periode ini (1960-1970) dimensi aksiologis
menjadi perhatian para filosof, hal ini tak lain untuk meniupkan ruh
etis dan agamis pada ilmu, agar pemanfaatannya dapat menjadi berkah
bagi manusia dan kemanusiaan , sehingga telaah pada fakta empiris
berkembang ke pencarian makna dibaliknya atau seperti yang dikemukakan
oleh Prof. Dr. H. Ismaun, M.Pd (2000 : 131) dari telaah positivistik ke
telaah meta-science yang dimulai sejak tahun 1965.
Memasuki tahun 1970-an , pencarian makna ilmu mulai berkembang khususnya
di kalangan pemikir muslim , bahkan pada dasawarsa ini lahir gerakan
islamisasi ilmu, hal ini tidak terlepas dari sikap apologetik umat islam
terhadap kemajuan barat, sampai-sampai ada ide untuk melakukan
sekularisasi, seperti yang dilontarkan oleh Nurcholis Majid pada tahun
1974 yang kemudian banyak mendapat reaksi keras dari pemikir-pemikir
Islam seperti dari Prof. H.M Rasyidi dan Endang Saifudin Anshori.
Mulai awal tahun 1980-an, makin banyak karya cendekiawan muslim yang
berbicara tentang integrasi ilmu dan agama atau islamisasi ilmu,
seperti terlihat dari berbagai karya mereka yang mencakup variasi ilmu
seperti karya Ilyas Ba Yunus tentang Sosiologi Islam, serta karya-karya
dibidang ekonomi, seperti karya Syed Haider Naqvi Etika dan Ilmu
Ekonomi, karya Umar Chapra Al Qur’an, menuju sistem moneter yang adil,
dan karya-karya lainnya , yang pada intinya semua itu merupakan upaya
penulisnya untuk menjadikan ilmu-ilmu tersebut mempunyai landasan nilai
islam.
Memasuki tahun 1990-an , khususnya di Indosesia perbincangan filsafat
diramaikan dengan wacana post modernisme, sebagai suatu kritik terhadap
modernisme yang berbasis positivisme yang sering mengklaim
universalitas ilmu, juga diskursus post modernisme memasuki
kajian-kajian agama.
Post modernisme yang sering dihubungkan dengan Michael Foccault dan
Derrida dengan beberapa konsep/paradigma yang kontradiktif dengan
modernisme seperti dekonstruksi, desentralisasi, nihilisme dsb, yang
pada dasarnya ingin menempatkan narasi-narasi kecil ketimbang
narasi-narasi besar, namun post modernisme mendapat kritik keras dari
Ernest Gellner dalam bukunya Post modernism, Reason and Religion yang
terbit pada tahun1992. Dia menyatakan bahwa post modernisme akan
menjurus pada relativisme dan untuk itu dia mengajukan konsep
fundamentalisme rasionalis, karena rasionalitas merupakan standar yang
berlaku lintas budaya.
Disamping itu gerakan meniupkan nilai-nilai agama pada ilmu makin
berkembang, bahkan untuk Indonesia disambut hangat oleh ulama dan
masyarakat terlihat dari berdirinya BMI, yang pada dasarnya hal ini
tidak terlepas dari gerakan islamisasi ilmu, khususnya dalam bidang ilmu
ekonomi.
Dan pada periode ini pula teknologi informasi sangat luar biasa ,
berakibat pada makin pluralnya perbincangan/diskursus filsafat, sehingga
sulit menentukan diskursus mana yang paling menonjol, hal ini mungkin
sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Alvin Tofler sebagai The third
Wave, dimana informasi makin cepat memasuki berbagai belahan dunia yang
pada gilirannya akan mengakibatkan kejutan-kejutan budaya tak terkecuali
bidang pemikiran filsafat.
Meskipun nampaknya prkembangan Filsafat ilmu erat kaitan dengan dimensi
axiologi atau nilai-nilai pemanfaatan ilmu, namun dalam perkembangannya
keadaan tersebut telah juga mendorong para akhli untuk lebih mencermati
apa sebenarnya ilmu itu atau apa hakekat ilmu, mengingat dimensi
ontologis sebenarnya punya kaitan dengan dimensi-dimensi lainnya seperti
ontologi dan epistemologi, sehingga dua dimensi yang terakhir pun
mendapat evaluasi ulang dan pengkajian yang serius.
Diantara tonggak penting dalam bidang kajian ilmu (filsafat ilmu) adalah
terbitnya Buku The Structure of Scientific Revolution yang ditulis
oleh Thomas S Kuhn, yang untuk pertama kalinya terbit tahun 1962, buku
ini merupakan sebuah karya yang monumental mengenai perkembangan
sejarah dan filsafat sains, dimana didalamnya paradigma menjadi konsep
sentral, disamping konsep sains/ilmu normal. Dalam pandangan Kuhn ilmu
pengetahuan tidak hanya pengumpulan fakta untuk membuktikan suatu teori,
sebab selalu ada anomali yang dapat mematahkan teori yang telah
dominan.
Pencapaian-pencapaian manusia dalam bidang pemikiran ilmiah telah
menghasilkan teori-teori, kemudian teori-teori terspesifikasikan
berdasarkan karakteristik tertentu ke daLam suatu Ilmu. Ilmu (teori)
tersebut kemudian dikembangkan , diuji sehingga menjadi mapan dan
menjadi dasar bagi riset-riset selanjutnya , maka Ilmu (sains) tersebut
menjadi sains normal yaitu riset yang dengan teguh berdasar atas suatu
pencapaian ilmiah yang lalu, pencapaian yang oleh masyarakat ilmiah
tertentu pada suatu ketika dinyatakan sebagai pemberi fundasi bagi
praktek (riset) selanjutnya ( Thomas S Kuhn, 2000 :10 ) .
Pencapaian pemikiran ilmiah tersebut dan terbentuknya sains yang normal
kemudian menjadi paradigma, yang berarti “apa yang dimiliki bersama oleh
anggota suatu masyarakat sains dan sebaliknya masyarakat sains terdiri
atas orang yang memiliki suatu paradigma tertentu ( Thomas S Kuhn, 2000 :
171 ). Paradigma dari sains yang normal kemudian mendorong riset normal
yang cenderung sedikit sekali ditujukan untuk menghasilkan penemuan
baru yang konseptual atau yang hebat (. Thomas S Kuhn, 2000 : 134 ).
Ini berakibat bahwa sains yang normal, kegunaannya sangat bermanfaat
dan bersifat kumulatif. Teori yang memperoleh pengakuan sosial akan
menjadi paradigma, dan kondisi ini merupakan periode ilmu normal.
Kemajuan ilmu berawal dari perjuangan kompetisi berbagai teori untuk
mendapat pengakuan intersubjektif dari suatu masyarakat ilmu. Dalam
periode sain normal ilmu hanyalah merupakan pembenaran-pembenaran sesuai
dengan asumsi-asumsi paaradigma yang dianut masyarakat tersebut, ini
tidak lain dikarenakan paradigma yang berlaku telah menjadi patokan bagi
ilmu untuk melakukan penelitian, memecahkan masalah, atau bahkan
menyeleksi masalah-masalah yang layak dibicarakan dan dikaji
Akan tetapi didalam perkembangan selanjutnya ilmuwan banyak menemukan
hal-hal baru yang sering mengejutkan, semua ini diawali dengan
kesadaran akan anomali atas prediksi-prediksi paradigma sains normal,
kemudian pandangan yang anomali ini dikembangkan sampai akhirnya
ditemukan paradigma baru yang mana perubahan ini sering sangat
revolusioner. Paradigma baru tersebut kemudian melahirkan sain normal
yang baru sampai ditemukan lagi paradigma baru berikutnya. Bila
digambarkan nampak sebagai berikut :
Pencapaian Manusia dalam pemikiran ilmiah
| |
Sains Normal
| |
Paradigma
| |
Anomali
| |
Perubahan paradigma/ revolusi sains
| |
Sains Normal yang baru
| |
Paradigma Baru
| |
Gambar 4.2, Struktur perubahan ke-Ilmuan
Pencapaian sain normal dan paradigma baru bukanlah akhir , tapi menjadi
awal bagi proses perubahan paradigma dan revolusi sains berikutnya,
bila terdapat anomali atas prediksi sains normal yang baru tersebut.
Pendapat Kuhn tersebut pada dasarnya mengindikasikan bahwa secara
substansial kebenaran ilmu bukanlah sesuatu yang tak tergoyahkan, suatu
paradigma yang berlaku pada suatu saat, pada saat yang lain bisa
tergantikan dengan paradigma baru yang telah mendapat pengakuan dari
masyarakat ilmiah, itu berarti suatu teori sifatnya sangat tentatif
sekali.
D. Ciri-Ciri Ilmu Modern
Dalam bab terdahulu telah dikemukakan ciri-ciri dari suatu ilmu, ciri-ciri tersebut pada prinsipnya merupakan suatu yang normatif dalam suatu disiplin keilmuan. Namun dalam perkembangannya ilmu khususnya teknologi sebagai aplikasi dari ilmu telah banyak mengalami perubahan yang sangata cepat, perubahan ini berdampak pada pandangan masyarakat tentang hakekat ilmu, perolehan ilmu, serta manfaatnya bagi masyarakat, sehingga ilmu cenderung dianggap sebagai satu-satunya kebenaran dalam mendasari berbagai kebijakan kemasyarakatan, serta telah menjadi dasar penting yang mempengaruhi penentuan prilaku manusia. Keadaan ini berakibat pada karakterisasi ciri ilmu modern, adapun ciri-ciri tersebut adalah :
1. Bertumpu pada paradigma positivisme. Ciri ini terlihat dari
pengembangan ilmu dan teknologi yang kurang memperhatikan aspek nilai
baik etis maupun agamis, karena memang salah satu aksioma positivisme
adalah value free yang mendorong tumbuhnya prinsip science for science.
2. Mendorong pada tumbuhnya sikap hedonisme dan konsumerisme.
Berbagai pengembangan ilmu dan teknologi selalu mengacu pada upaya untuk
meningkatkan kenikmatan hidup , meskipun hal itu dapat mendorong
gersangnya ruhani manusia akibat makin memasyarakatnya budaya
konsumerisme yang terus dipupuk oleh media teknologi modern seperti
iklan besar-besaran yang dapat menciptakan kebutuhan semu yang oleh
Herbert Marcuse didefinisikan sebagai kebutuhan yang ditanamkan ke
dalam masing-masing individu demi kepentingan sosial tertentu dalam
represinya (M. Sastrapatedja, 1982 : 125)
3. Perkembangannya sangat cepat . Pencapaian sain ddan teknologi
modern menunjukan percepatan yang menakjubkan , berubah tidak dalam
waktu tahunan lagi bahkan mungkin dalam hitungan hari, ini jelas sangat
berbeda denngan perkembangan iptek sebelumnya yang kalau menurut Alfin
Tofler dari gelombang pertama (revolusi pertanian) memerlukan waktu
ribuan tahun untuk mencapai gelombang ke dua (revolusi industri, dimana
sebagaimana diketahui gelombang tersebut terjadi akibat pencapaian sains
dan teknologi.
4. Bersifat eksploitatif terhadap lingkungan. Berbagai kerusakan
lingkungan hidupdewasa ini tidak terlepas dari pencapaian iptek yang
kurang memperhatikan dampak lingkungan.
E. Paradigma Ilmu Modern Menurut Beberapa Aliran
Secara historis paradigma sains telah mengalami tahapan-tahapan perubahan sebagaimana dikemukakan oleh S Nasution dalam bukunya “Metode penelitian naturalistik kualitatif (1996 : 3). Tahap pertama disebut masa pra-positivisme, yang diawali dari jaman Aristiteles sampai David Hume, dimana aplikasinya dalam penelitian adalah mengamati secara pasif, tidak ada upaya memanipulasi lingkungan dan melakukan eksperimen terhadap lingkungan . Tahapan ini kemudian berganti dengan tahapan positivisme, dimana paradigma ini menjadi dasar bagi metode ilmiah dengan bentuk penelitian kuantitatif , yang mencoba mencari prinsip-prinsip atau hukum-hukum umum tentang dunia kenyataan . Paradigma berikutnya yang muncul adalah paradigma post positivisme sebagai reaksi atas pendirian positivisme, dimana dalam pandangan ini, kebenaran bukan sesuatu yang tunggal (it is an increasing complexity) sebagaimana diyakini positivisme.
Namun demikian paradigma yang paling menonjol di jaman modern ini
nampaknya adalah positivisme, meskipun ada beberapa sempalan dalam
positivisme itu (Ahmad Sanusi, Majalah Matahari : 12). Untuk lebih
mengetahuiberbagai paradigma sains modern, penulis sajikan tabel
berikut yang dikutip oleh Ahmad Sanusi dalam Majalah Matahari halaman 12
sebagai berikut :
Tabel 4.2. Macam-macam Paradigma Ilmu
ALIRAN PARADIGMA WACANA ILMU
|
SUMBER/DAYA /POTENSI PENGERTIAN DAN TUGASNYA
|
BENTUK PENGETAHUAN DAN TUGASNYA
|
TITIK BERAT PADA
|
MODEL VERIFIKASI
|
MODALITAS MENYELURUH
|
ESENSI ONTOLOGIS
|
POSITIVISTIK
|
Akal sehat dan melakukan observasi
|
Empirikal Statis-tik dan memilih metoda
|
fakta
|
Konsistensi dan Kepastian yang empirikal, rasional/logis
|
Obyek yang spesifik dan terukur
|
Realitas yang memisah/ khusus
|
FORMALISTIK/ STRUKTURALISTIK
|
Nalar reflektif dan Menemukan Makna
|
Empirikal statistikal dan Menyusun fakta
|
metode
|
Konsistensi empirikal
|
Obyek yang spesifik dan terukur
|
Realitas yang melanjut
|
PENAFSIRAN (INTERPRETATIF)
|
Intuisi dan Menemukan Metoda
|
Teoritikal Filosofis Subyektivitas
Transendental, dan menjelaskan teori
|
makna
|
Kohesi teoritik
|
Identitas obyek yang masuk akal dan kemampuan mentransformasikan
|
Realitas yang melanjut
|
TEORITIS
|
Intuisi dan Menemukan Nilai
|
Teoritikal Filosofis Menemukan Makna
|
Teori
|
Kohesi Teoritik
|
Identitas obyek yang masuk akal dan karakteristik yang unggul
|
Realitas yang menyatu
|
KRITIS
|
Intuisi dan Menemukan Teori
|
Personal Sosial dan Melakukan Observasi
|
Nilai
|
Konsensus atas dasar pengalaman
|
Identitas obyek yang masuk akal dan karakteristik yang unggul
|
Realitas yang menyatu
|
PENGAMAT
PARTISIPAN
|
Akal sehat dan menemukan fakta
|
Personal Sosial dan Menemukan Fakta
|
Observasi
|
Konsensus atas dasar pengalaman
|
Identitas obyek yang masuk akal dan fungsi yang khas
|
Realitas yang memisah
|
Paradigma-paradigma yang tercantum dalam tabel tersebut masih dapat
dikelompokan pada kategori yang sama atau mendekati. Dilihat dari esensi
ontologisnya paradigma positivistik sama dengan pengamat partisipan
yakni bahwa realitas itu terpisah, paradigma teoritis sama dengan
paradigma kritis, sedang paradigma formalistik strukturalis sama dengan
paradigma interpretatif. Dilihat dari sumber, positivistik sama dengan
pengamat partisipan dan mendekati paradigma interpretatif serta
formalistik strukturalis, sedangkan paradigma teoritis sama dengan
paradigma kritis.
Dari segi bentuk pengetahuan, positivistik sama dengan formalistik,
interpretatif sama dengan teoritis, sedangkan paradigma kritis sama
dengan paradigma pengamat partisipan , demikian juga dilihat dari segi
model verifikasi banyak kesamaannya, hanya dari tugas dan titik berat
keenam paradigma itu berbeda.
Namun demikian paradigma yang paling menonjol sekarang ini adalah
paradigma positivistik, dimana kenyataan menunjukan paradigma ini banyak
memberikan sumbangan bagi perkembangan teknologi dewasa ini , akan
tetapi tidak berarti paradigma lainnya tidak berperan , peranannya tetap
ada terutama dalam hal-hal yang tak dapat dijelaskan oleh paradigma
positivistik , hal ini terlihat dengan berkembangnya paradigma
naturalistik yang telah mendorong berkembangnya penelitian kualitatif .
oleh karena itu nampaknya paradigma-paradigma tersebut tidak bersifat
saling menghilangkan tapi lebih bersipat saling melengkapi , hal ini
didasari keyakinan betapa kompleksnya realitas dunia dan kehidupan di
dalamnya.
F. Hubungan Filsafat Dengan Ilmu
Meskipun secara historis antara ilmu dan filsafat pernah merupakan suatu kesatuan, namun dalam perkembangannya mengalami divergensi, dimana dominasi ilmu lebih kuat mempengaruhi pemikiran manusia, kondisi ini mendorong pada upaya untuk memposisikan ke duanya secara tepat sesuai dengan batas wilayahnya masing-masing, bukan untuk mengisolasinya melainkan untuk lebih jernih melihat hubungan keduanya dalam konteks lebih memahami khazanah intelektuan manusia
Harold H. Titus mengakui kesulitan untuk menyatakan secara tegas dan
ringkas mengenai hubungan antara ilmu dan filsafat, karena terdapat
persamaan sekaligus perbedaan antara ilmu dan filsafat, disamping
dikalangan ilmuwan sendiri terdapat perbedaan pandangan dalam hal sifat
dan keterbatasan ilmu, dimikian juga dikalangan filsuf terdapat
perbedaan pandangan dalam memberikan makna dan tugas filsafat.
Adapaun persamaan (lebih tepatnya persesuaian) antara ilmu dan filsafat
adalah bahwa keduanya menggunakan berfikir reflektif dalam upaya
menghadapi/memahami fakta-fakta dunia dan kehidupan, terhadap hal-hal
tersebut baik filsafat maupun ilmu bersikap kritis, berfikiran terbuka
serta sangat konsern pada kebenaran, disamping perhatiannya pada
pengetahuan yang terorganisisr dan sistematis.
Sementara itu perbedaan filsafat dengan ilmu lebih berkaitan dengan
titik tekan, dimana ilmu mengkaji bidang yang terbatas, ilmu lebih
bersifat analitis dan deskriptif dalam pendekatannya, ilmu menggunakan
observasi, eksperimen dan klasifikasi data pengalaman indra serta
berupaya untuk menemukan hukum-hukum atas gejala-gejala tersebut,
sedangkan filsafat berupaya mengkaji pengalaman secara menyeluruh
sehingga lebih bersifat inklusif dan mencakup hal-hal umum dalam
berbagai bidang pengalaman manusia, filsafat lebih bersifat sintetis dan
sinoptis dan kalaupun analitis maka analisanya memasuki dimensi
kehidupan secara menyeluruh dan utuh, filsafat lebih tertarik pada
pertanyaan kenapa dan bagaimana dalam mempertanyakan masalah hubungan
antara fakta khusus dengan skema masalah yang lebih luas, filsafat juga
mengkaji hubungan antara temuan-temuan ilmu dengan klaim agama, moral
serta seni.
Dengan memperhatikan ungkapan di atas nampak bahwa filsafat mempunyai
batasan yang lebih luas dan menyeluruh ketimbang ilmu, ini berarti bahwa
apa yang sudah tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat berupaya
mencari jawabannya, bahkan ilmu itu sendiri bisa dipertanyakan atau
dijadikan objek kajian filsafat (Filsafat Ilmu), namun demikian filsafat
dan ilmu mempunyai kesamaan dalam menghadapi objek kajiannya yakni
berfikir reflektif dan sistematis, meski dengan titik tekan pendekatan
yang berbeda.
Dengan demikian, Ilmu mengkaji hal-hal yang bersifat empiris dan dapat
dibuktikan, filsafat mencoba mencari jawaban terhadap masalah-masalah
yang tidak bisa dijawab oleh Ilmu dan jawabannya bersifat spekulatif,
sedangkan Agama merupakan jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak
bisa dijawab oleh filsafat dan jawabannya bersifat mutlak/dogmatis.
Menurut Sidi Gazlba (1976), Pengetahuan ilmu lapangannya segala sesuatu
yang dapat diteliti (riset dan/atau eksperimen) ; batasnya sampai kepada
yang tidak atau belum dapat dilakukan penelitian. Pengetahuan filsafat :
segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh budi (rasio) manusia yang
alami (bersifat alam) dan nisbi; batasnya ialah batas alam namun
demikian ia juga mencoba memikirkan sesuatu yang diluar alam, yang
disebut oleh agama “Tuhan”. Sementara itu Oemar Amin Hoesin (1964)
mengatakan bahwa ilmu memberikan kepada kita pengetahuan, dan filsafat
memberikan hikmat. Dari sini nampak jelas bahwa ilmu dan filsafat
mempunyai wilayah kajiannya sendiri-sendiri
Meskipun filsafat ilmu mempunyai substansinya yang khas, namun dia
merupakan bidang pengetahuan campuran yang perkembangannya tergantung
pada hubungan timbal balik dan saling pengaruh antara filsafat dan ilmu,
oleh karena itu pemahaman bidang filsafat dan pemahaman ilmu menjadi
sangat penting, terutama hubungannya yang bersifat timbal balik, meski
dalam perkembangannya filsafat ilmu itu telah menjadi disiplin yang
tersendiri dan otonom dilihat dari objek kajian dan telaahannya
G. Bidang Kajian dan Masalah-Masalah dalam Filsafat Ilmu
Bidang kajian filsafat ilmu ruang lingkupnya terus mengalami perkembangan, hal ini tidak terlepas dengan interaksi antara filsafat dan ilmu yang makin intens. Bidang kajian yang menjadi telaahan filsafat ilmu pun berkembang dan diantara para akhli terlihat perbedaan dalam menentukan lingkup kajian filsafat ilmu, meskipun bidang kajian iduknya cenderung sama, sedang perbedaan lebih terlihat dalam perincian topik telaahan. Berikut ini beberapa pendapat akhli tentang lingkup kajian filsafat ilmu :
1. Edward Madden menyatakan bahwa lingkup/bidang kajian filsafat ilmu adalah:
a. Probabilitas
b. Induksi
c. Hipotesis
2. Ernest Nagel
a. Logical pattern exhibited by explanation in the sciences
b. Construction of scientific concepts
c. Validation of scientific conclusions
3. Scheffer
a. The role of science in society
b. The world pictured by science
c. The foundations of science
Dari beberapa pendapat di atas nampak bahwa semua itu lebih bersifat
menambah terhadap lingkup kajian filsafat ilmu, sementara itu Jujun S.
Suriasumantri menyatakan bahwa filsafat ilmu merupakan bagian dari
epistemology yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu. Dalam bentuk
pertanyaan, pada dasar filsafat ilmu merupakan telahaan berkaitan dengan
objek apa yang ditelaah oleh ilmu (ontologi), bagaimana proses
pemerolehan ilmu (epistemologi), dan bagaimana manfaat ilmu (axiologi),
oleh karena itu lingkup induk telaahan filsafat ilmu adalah :
1. ontologi
2. epistemologi
3. axiologi
ontologi berkaitan tentang apa obyek yang ditelaah ilmu, dalam kajian
ini mencakup masalah realitas dan penampakan (reality and appearance),
serta bagaimana hubungan ke dua hal tersebut dengan subjek/manusia.
Epistemologi berkaitan dengan bagaimana proses diperolehnya ilmu,
bagaimana prosedurnya untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang benar.
Axiologi berkaitan dengan apa manfaat ilmu, bagaimana hubungan etika
dengan ilmu, serta bagaimana mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan.
Ruang lingkup telaahan filsafat ilmu sebagaimana diungkapkan di atas di
dalamnya sebenarnya menunjukan masalah-masalah yang dikaji dalam
filsafat ilmu, masalah-masalah dalam filsafat ilmu pada dasarnya
menunjukan topik-topik kajian yang pastinya dapat masuk ke dalam
salahsatu lingkup filsafat ilmu. Adapun masalah-masalah yang berada
dalam lingkup filsafat ilmu adalah (Ismaun) :
1. masalah-masalah metafisis tentang ilmu
2. masalah-masalah epistemologis tentang ilmu
3. masalah-masalah metodologis tentang ilmu
4. masalah-masalah logis tentang ilmu
5. masalah-masalah etis tentang ilmu
6. masalah-masalah tentang estetika
metafisika merupakan telaahan atau teori tentang yang ada, istilah
metafisika ini terkadang dipadankan dengan ontologi jika demikian,
karena sebenarnya metafisika juga mencakup telaahan lainnya seperti
telaahan tentang bukti-bukti adanya Tuhan. Epistemologi merupakan teori
pengetahuan dalam arti umum baik itu kajian mengenai pengetahuan biasa,
pengetahuan ilmiah, maupun pengetahuan filosofis, metodologi ilmu adalah
telaahan atas metode yang dipergunakan oleh suatu ilmu, baik dilihat
dari struktur logikanya, maupun dalam hal validitas metodenya. Masalah
logis berkaitan dengan telaahan mengenai kaidah-kaidah berfikir benar,
terutama berkenaan dengan metode deduksi. Problem etis berkaitan dengan
aspek-aspek moral dari suatu ilmu, apakah ilmu itu hanya untuk ilmu,
ataukah ilmu juga perlu memperhatikan kemanfaatannya dan kaidah-kaidah
moral masyarakat. Sementara itu masalah estetis berkaitan dengan dimensi
keindahan atau nilai-nilai keindahan dari suatu ilmu, terutama bila
berkaitan dengan aspek aplikasinya dalam kehidupan masyarakat.
H. Kebenaran Ilmu
Ilmu pada dasarnya merupakan upaya manusia untuk menjelaskan berbagai fenomena empiris yang terjadi di alam ini, tujuan dari upaya tersebut adalah untuk memperoleh suatu pemahaman yang benar atas fenomena tersebut. Terdapat kecenderungan yang kuat sejak berjayanya kembali akal pemikiran manusia adalah keyakinan bahwa ilmu merupakan satu-satunya sumber kebanaran, segala sesuatu penjelasan yang tidak dapat atau tidak mungkin diuji, diteliti, atau diobservasi adalah sesuatu yang tidak benar, dan karena itu tidak patut dipercayai.
Akan tetapi kenyataan menunjukan bahwa tidak semua masalah dapat dijawab
dengan ilmu, banyak sekali hal-hal yang merupakan konsern manusia,
sulit, atau bahkan tidak mungkin dijelaskan oleh ilmu seperti masalah
Tuhan, Hidup sesudah mati, dan hal-hal lain yang bersifat non – empiris.
Oleh karena itu bila manusia hanya mempercayai kebenaran ilmiah sebagai
satu-satunya kebenaran, maka dia telah mempersempit kehidupan dengan
hanya mengikatkan diri dengan dunia empiris, untuk itu diperlukan
pemahaman tentang apa itu kebenaran baik dilihat dari jalurnya (gradasi
berfikir) maupun macamnya.
Bila dilihat dari gradasi berfikir kebenaran dapat dikelompokan kedalam empat gradasi berfikir yaitu :
1. kebenaran biasa. Yaitu kebenaran yang dasarnya adalah common
sense atau akal sehat. Kebenaran ini biasanya mengacu pada pengalaman
individual tidak tertata dan sporadis sehingga cenderung sangat
subjektif sesuai dengan variasi pengalaman yang dialaminya. Namun
demikian seseorang bisa menganggapnya sebagai kebenaran apabila telah
dirasakan manfaat praktisnya bagi kehidupan individu/orang tersebut.
2. Kebenaran Ilmu. Yaitu kebenaran yang sifatnya positif karena
mengacu pada fakta-fakta empiris, serta memungkinkan semua orang untuk
mengujinya dengan metode tertentu dengan hasil yang sama atau paling
tidak relatif sama.
3. Kebenaran Filsafat. Kebenaran model ini sifatnya spekulatif,
mengingat sulit/tidak mungkin dibuktikan secara empiris, namun bila
metode berfikirnya difahami maka seseorang akan mengakui kebenarannya.
Satu hal yang sulit adalah bagaimana setiap orang dapat mempercayainya,
karena cara berfikir dilingkungan filsafatpun sangat bervariasi.
4. kebenaran Agama. Yaitu kebenaran yang didasarkan kepada
informasi yang datangnya dari Tuhan melalui utusannya, kebenaran ini
sifatnya dogmatis, artinya ketika tidak ada kefahaman atas sesuatu hal
yang berkaitan dengan agama, maka orang tersebut tetap harus
mempercayainya sebagai suatu kebenaran.
Dari uraian di atas nampak bahwa maslah kebenaran tidaklah sederhana,
tingkatan-tingkatan/gradasi berfikir akan menentukan kebenaran apa yang
dimiliki atau diyakininya, demikian juga sifat kebenarannya juga
berbeda. Hal ini menunjukan bahwa bila seseorang berbicara mengenai
sesuatu hal, dan apakah hal itu benar atau tidak, maka pertama-tama
perlu dianalisis tentang tataran berfikirnya, sehingga tidak serta merta
menyalahkan atas sesuatu pernyataan, kecuali apabila pembicaraannya
memang sudah mengacu pada tataran berfikir tertentu.
Dalam konteks Ilmu, kebenaran pun mendapatkan perhatian yang srius,
pembicaraan masalah ini berkaitan dengan validitas pengetahuan/ilmu,
apakah pengetahuan yang diliki seseorang itu benar/valid atau tidak,
untuk itu para akhli mengemukakan berbagai teori kebenaran (Theory of
Truth), yang dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis teori
kebenaran yaitu :
1. Teori korespondensi (The Correspondence theory of truth).
Menurut teori ini kebenaran, atau sesuatu itu dikatakan benar apabila
terdapat kesesuaian antara suatu pernyataan dengan faktanya (a
proposition - or meaning - is true if there is a fact to which it
correspond, if it expresses what is the case). Menurut White Patrick
“truth is that which conforms to fact, which agrees with reality, which
corresponds to the actual situation. Truth, then can be defined as
fidelity to objective reality”. Sementara itu menurut Rogers, keadaan
benar (kebenaran) terletak dalam kesesuaian antara esensi atau arti yang
kita berikan dengan esensi yang terdapat di dalam objeknya. Contoh :
kalau seseorang menyatakan bahwa Kualalumpur adalah ibukota Malayasia,
maka pernyataan itu benar kalu dalam kenyataannya memang ibukota
Malayasia itu Kualalumpur.
2. Teori Konsistensi (The coherence theory of truth). Menurut teori
ini kebenaran adalah keajegan antara suatu pernyataan dengan pernyataan
lainnya yang sudah diakui kebenarannya, jadi suatu proposisi itu benar
jika sesuai/ajeg atau koheren dengan proposisi lainnya yang benar.
Kebenaran jenis ini biasanya mengacu pada hukum-hukum berfikir yang
benar. Misalnya Semua manusia pasti mati, Uhar adalah Manusia, maka Uhar
pasti mati, kesimpulan uhar pasti mati sangat tergantung pada kebenaran
pernyataan pertama (semua manusia pasti mati).
3. Teori Pragmatis (The Pragmatic theory of truth). Menurut teori
ini kebenaran adalah sesuatu yang dapat berlaku, atau dapat memberikan
kepuasan, dengan kata lain sesuatu pernyataan atau proposisi dikatakan
benar apabila dapat memberi manfaat praktis bagi kehidupan, sesuatu itu
benar bila berguna.
Teori-teori kebenaran tersebut pada dasarnya menunjukan titik berat
kriteria yang berbeda, teori korespondensi menggunakan kriteria fakta,
oleh karena itu teori ini bisa disebut teori kebenaran empiris, teori
koherensi menggunakan dasar fikiran sebagai kriteria, sehingga bisa
disebut sebagai kebenaran rasional, sedangkan teori pragmatis
menggunakan kegunaan sebagai kriteria, sehingga bisa disebut teori
kebenaran praktis.
I. Keterbatasan Ilmu
Hubungan antara filsafat dengan ilmu yang dapat terintegrasi dalam filsafat ilmu, dimana filsafat mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ilmu, menunjukan adanya keterbatasan ilmu dalam menjelaskan berbagai fenomena kehidupan. Disamping itu dilingkungan wilayah ilmu itu sendiri sering terjadi sesuatu yang dianggap benar pada satu saat ternyata disaat lain terbukti salah, sehingga timbul pertanyaan apakan kebenaran ilmu itu sesuatu yang mutlak ?, dan apakah seluruh persoalan manusia dapat dijelaskan oleh ilmu ?. pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya menggambarkan betapa terbatasnya ilmu dalam mengungkap misteri kehidupan serta betapa tentatifnya kebenaran ilmu.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya diungkapkan pendapat para
akhli berkaitan dengan keterbatasan ilmu, para akhli tersebut antara
lain adalah :
1. Jean Paul Sartre menyatakan bahwa ilmu bukanlah sesuatu yang
sudah selesai terfikirkan, sesuatu hal yang tidak pernah mutlak, sebab
selalu akan disisihkan oleh hasil-hasil penelitian dan percobaan baru
yang dilakukan dengan metode-metode baru atau karena adanya
perlengkapan-perlengkapan yang lebih sempurna, dan penemuan baru tiu
akan disisihkan pula oleh akhli-akhli lainnya.
2. D.C Mulder menyatakan bahwa tiap-tiap akhli ilmu menghadapi
soal-soal yang tak dapat dipecahkan dengan melulu memakai ilmu itu
sendiri, ada soal-soal pokok atau soal-soal dasar yang melampaui
kompetensi ilmu, misalnya apakah hukum sebab akibat itu ?, dimanakah
batas-batas lapangan yang saya selidiki ini?, dimanakah tempatnya dalam
kenyataan seluruhnya ini?, sampai dimana keberlakuan metode yang
digunakan?. Jelaslah bahwa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut
ilmu memerlukan instansi lain yang melebihi ilmu yakni filsafat.
3. Harsoyo menyatakan bahwa ilmu yang dimiliki umat manusia dewasa
ini belumlah seberapa dibandingkan dengan rahasia alam semesta yang
melindungi manusia. Ilmuwan-ilmuwan besar biasanya diganggu oleh
perasaan agung semacam kegelisahan batin untuk ingin tahu lebih banyak,
bahwa yang diketahui itu masih meragu-ragukan, serba tidak pasti yang
menyebabkan lebih gelisah lagi, dan biasanya mereka adalah orang-orang
rendah hati yang makin berisi makin menunduk. Selain itu Harsoyo juga
mengemukakan bahwa kebenaran ilmiah itu tidaklah absolut dan final
sifatnya. Kebenaran-kebenaran ilmiah selalu terbuka untuk peninjauan
kembali berdasarkan atas adanya fakta-fakta baru yang sebelumnya tidak
diketahui.
4. J. Boeke menyatakan bahwa bagaimanapun telitinya kita
menyelidiki peristiwa-peristiwa yang dipertunjukan oleh zat hidup itu,
bagaimanapunjuga kita mencoba memperoleh pandangan yang jitu tentang
keadaan sifatzat hidup itu yang bersama-sama tersusun, namun asas hidup
yang sebenarnya adalah rahasiah abadi bagi kita, oleh karena itu kita
harus menyerah dengan perasaan saleh dan terharu.
Dengan memperhatikan penjelasan di atas, nampak bahwa ilmu itu tidak
dapat dipandang sebagai dasar mutlak bagi pemahaman manusia tentang
alam, demikian juga kebenaran ilmu harus dipandang secara tentatif,
artinya selalu siap berubah bila ditemukan teori-teori baru yang
menyangkalnya. Dengan demikian dpatlah ditarik kesimpulan berkaitan
dengan keterbatasan ilmu yaitu :
1. ilmu hanya mengetahui fenomena bukan realitas, atau mengkaji
realitas sebagai suatu fenomena (science can only know the phenomenal,
or know the real through and as phenomenal - R. Tennant)
2. Ilmu hanya menjelaskan sebagian kecil dari fenomena alam/kehidupan manusia dan lingkungannya
3. kebenaran ilmu bersifat sementara dan tidak mutlak
keterbatasan tersebut sering kurang disadari oleh orang yang mempelajari
suatu cabang ilmu tertentu, hal ini disebabkan ilmuwan cenderung
bekerja hanya dalam batas wilayahnya sendiri dengan suatu disiplin yang
sangat ketat, dan keterbatasan ilmu itu sendiri bukan merupakan konsern
utama ilmuwan yang berada dalam wilayah ilmu tertentu.
J. Manfaat Mempelajari Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu berusaha mengkaji hal tersebut guna menjelaskan hakekat ilmu yang mempunyai banyak keterbatasan, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang padu mengenai berbagai fenomena alam yang telah menjadi objek ilmu itu sendiri, dan yang cenderung terfragmentasi. Untuk itu filsafat ilmu bermanfaat untuk :
- Melatih berfikir radikal tentang hakekat ilmu
- Melatih berfikir reflektif di dalam lingkup ilmu
- Menghindarkan diri dari memutlakan kebenaran ilmiah, dan menganggap bahwa ilmu sebagai satu-satunya cara memperoleh kebenaran
- Menghidarkan diri dari egoisme ilmiah, yakni tidak






0 komentar:
Posting Komentar